APDForum.com adalah versi online dari Asia-Pacific Defense Forum, yaitu sebuah jurnal militer profesional yang diterbitkan setiap kuartal oleh Komandan dari Komando Pasifik Amerika Serikat. APDForum.com menampilkan berita dan analisis mengenai Cina, India, Filipina, Vietnam, Jepang, kedua negara Korea, dan negara-negara Pasifik lainnya oleh para koresponden profesional. APDForum.com dan The Asia-Pacific Defense Forum menyediakan sebuah forum internasional bagi personel militer di wilayah-wilayah Asia dan Pasifik.

Wanita mencapai prestasi sebagai kadet peringkat ke-6 di Akademi Militer Filipina

2011-05-12
Oleh Marife Magtalas
Para calon wanita mengikuti ujian masuk di sebuah universitas Manila agar dapat memenuhi syarat untuk diterima di Akademi Militer Filipina, sekolah militer unggulan yang didominasi pria di negara ini. Pada saat ini diambil, hanya 15 persen dari 1.576 pelamar di tahun 1999 adalah wanita. Sejak saat itu, semakin banyak wanita memilih militer sebagai sebuah karier. [Reuters/Romeo Ranoco]

Para calon wanita mengikuti ujian masuk di sebuah universitas Manila agar dapat memenuhi syarat untuk diterima di Akademi Militer Filipina, sekolah militer unggulan yang didominasi pria di negara ini. Pada saat ini diambil, hanya 15 persen dari 1.576 pelamar di tahun 1999 adalah wanita. Sejak saat itu, semakin banyak wanita memilih militer sebagai sebuah karier. [Reuters/Romeo Ranoco]

Janice Matbagan yang berasal dari kawasan wisata pegunungan di Baguio, Filipina, selalu memandang lekat keluar jendela di saat dia masih kanak-kanak pada malam hari dan menyaksikan lampu-lampu isyarat Akademi Militer Filipina.

Bertahun-tahun dia mendambakan belajar di lembaga terkenal yang menghasilkan para pemimpin militer masa depan negara ini. Walaupun demikian, semasa usia belasan, dia memilih untuk mempelajari sebuah bidang pekerjaan yang menarik banyak wanita muda: keperawatan.

Kendati demikian, impian menjadi seorang perwira militer muncul kembali dan, setelah dua tahun, dia keluar dari pendidikan keperawatan dan masuk ke akademi.

Matbagan lulus dan menjadi seorang letnan dua pada tanggal 6 Maret. Dan ia melakukannya dengan mengagumkan - tamat sebagai lulusan Nomor 6 dari angkatan tahun 2011. Ini adalah pencapaian tertinggi kedua oleh seorang wanita yang tamat dari akademi tersebut. Arlene Dela Druz lulus Nomor 1 dari angkatan tahun 1999.

Dia memilih untuk mendaftar ke Angkatan Udara, dengan impian menjadi seorang pilot. Saat ini, ia sedang menantikan penugasan pertamanya.

Matbagan memandang militer sebagai suatu panggilan dan bukannya sebagai pekerjaan, dia berkata. “Kedengarannya sangat dramatis,” katanya, namun melayani negaranya “merupakan suatu anugerah bagi saya.”

Keluarganya khawatir dengan pilihannya pada awalnya, namun dengan segera mereka memberi dukungan baginya.

Satu penyesuaian yang ia serta para kadet lain di kelasnya harus lakukan adalah bahwa akademi memberi mereka sedikit waktu berharga bagi diri mereka sendiri. Hari mereka dimulai pada pukul 5:30 pagi saat mereka mengantri untuk sarapan lalu pemeriksaan. Kelas dimulai pukul 7. Setelah kelas berakhir pada siang hari, para kadet berbaris atau ikut serta dalam latihan menembak. Di malam hari, waktu belajar yang ketat diwajibkan. Pada pukul 10 malam, waktunya lampu padam.

Tahun pertama - kopral - adalah yang paling sulit, mulai dari belajar cara berkelakuan sampai cara mencuci baju yang benar, kata Matbagan. Para kadet mulai mempraktikkan kepemimpinan pada tahun kedua mereka, dengan pengawasan seorang siswa tingkat dua atas setiap siswa baru. Para kadet tahun ketiga mengawasi tiga atau empat siswa baru dalam satu regu.

“Anda harus menjadi cukup bertanggung jawab untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dengan para anggota regu Anda,” kata Matbagan. “Apakah mereka lulus ujian jasmani? Apakah mereka mempertahankan perilaku yang baik? Anda harus tahu semua hal tersebut.”

Bagi mereka yang tidak mengetahui 'keluar masuknya' Akademi Militer Filipina bisa saja berpikir bahwa akademi ini hanya mengajarkan keterampilan militer. Sebenarnya, akademi ini mengajarkan serangkaian mata pelajaran akademis ditambah lagi dengan pendidikan jasmani dan pembentukan watak.

Matbagan berkata, keseluruhan pengalaman akademi inilah yang membuatnya menjadi orang yang lebih berwawasan luas.

Pengalaman ini membentuk watak dan keterampilan kepemimpinannya, sebagai contohnya, katanya. Juga, ini membantunya memahami “pentingnya keunggulan,” katanya.

“Saya memahami orang lain secara lebih baik, dan dengan begitu memungkinkan saya untuk berurusan dengan mereka secara lebih baik,” katanya.

Matbagan berhasil dalam program olahraga di akademi, khususnya untuk lari jarak jauh dan judo. Salah satu prestasinya adalah memenangkan lari 10 kilometer yang merupakan bagian dari Maraton Internasional Subic. Keunggulannya dalam lomba lari jarak jauh amat mengagumkan sehingga akademi memintanya untuk melatih para kadet lainnya untuk maraton.

Keunggulan Matbagan dalam olahraga juga membuatnya memperoleh Penghargaan Atletik Saber, yang memberi penghargaan pada seorang atlet unggulan yang juga memiliki nilai akademis, keterampilan militer dan watak yang cemerlang.

Penghargaan lainnya yang diperoleh Matbagan adalah Penghargaan Kelompok Penasihat Militer A.S. bagi kadet Angkatan Udara terbaik. Kelompok ini juga memberi penghargaan bagi para kadet Angkatan Darat dan Angkatan Laut terbaik.

Prestasi kehormatan ketiga bagi Matbagan adalah Penghargaan Pertahanan Australia bagi kadet dengan nilai-nilai tertinggi dalam kursus-kursus keterampilan Angkatan Udara inti.

Dua puluh tahun silam Matbagan tidak akan diterima di akademi ini. Baru di tahun 1993, lembaga ini mulai menerima para wanita.

Wanita terus membentuk bagian kecil dari organisasi mahasiswa. Matbagan adalah satu dari 22 wanita di antara 196 kadet yang masuk di tahun 2007.

Sebagai seorang perwira Angkatan Darat yang baru saja lulus, Matbagan telah mengamati dengan rasa keingintahuan - namun tidak dengan kecemasan - akan tuduhan-tuduhan bahwa para pemimpin tertinggi militer Filipina mendapatkan jutaan peso sebagai hadiah perpisahan ketika mereka pensiun.

“Jika suatu lembaga tidak menghadapi tantangan, kekurangannya” akan gagal untuk muncul ke permukaan, katanya. “Menurut saya, semua masalah tersebut layaknya rautan yang akan membuat pensilnya semakin tajam.”

Dia berkata, laporan-laporan tuduhan tersebut telah membuatnya merenungkan nilai-nilai Kode Kehormatan yang dipelajarinya di akademi: “Kami, para kadet, tidak berdusta, mencurangi, mencuri, tidak juga membiarkan siapa pun di antara kami yang melakukannya.”

Para kadet bahkan mengikuti ujian tanpa kehadiran pengajar, yakin bahwa tidak satu pun rekan sekelasnya akan berbuat curang. “Saya menghargai sistem yang seperti ini,” kata Matbagan. “Ini merupakan contoh yang baik untuk ditiru setiap orang dalam kehidupan sehari-hari.”

 

Beri Peringkat Artikel ini

Peringkat Saat Ini: 3.0 / 5 (552 suara)
 
 
Kirim Komentar

Kebijakan Komentar APD Forum

* menunjukkan bidang yang wajib diisi




1500 karakter tersisa (1500 jumlah karakter maksimum)

Button

Komentar Pembaca

 

Donna Mae Naupan tentang 02/03/2013 di 10:16AM

Hai. Senang sekali bisa menjadi salah satu dari kalian. Saya ingin bergabung dengan tentara Filipina. Tapi saya tidak tahu kemana saya harus mengirimkan lamaran. Saat ini saya di Davao. Saya bersedia ikut pelatihan jika diberi kesempatan. Saya tunggu responnya. Terima kasih. Tuhan memberkati…

leazar tentang 29/04/2012 di 08:39AM

Ayo semangat… saya percaya kepadanya. Saya kira dia akan menjadi inspirasi bagi para wanita yang ingin masuk militer.