APDForum.com adalah versi online dari Asia-Pacific Defense Forum, yaitu sebuah jurnal militer profesional yang diterbitkan setiap kuartal oleh Komandan dari Komando Pasifik Amerika Serikat. APDForum.com menampilkan berita dan analisis mengenai Cina, India, Filipina, Vietnam, Jepang, kedua negara Korea, dan negara-negara Pasifik lainnya oleh para koresponden profesional. APDForum.com dan The Asia-Pacific Defense Forum menyediakan sebuah forum internasional bagi personel militer di wilayah-wilayah Asia dan Pasifik.

Korea Utara setuju izinkan inspektur nuklir

2012-03-01
Staf APDForum.com melaporkan
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, tengah, mengunjungi sebuah unit di bawah Korps Ke-4 Komando Angkatan Darat Rakyat Korea yang berlokasi di wilayah barat daya Korea Utara, di foto tidak bertanggal yang diterbitkan pada 26 Februari 2012 ini. [Reuters/KCNA]

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, tengah, mengunjungi sebuah unit di bawah Korps Ke-4 Komando Angkatan Darat Rakyat Korea yang berlokasi di wilayah barat daya Korea Utara, di foto tidak bertanggal yang diterbitkan pada 26 Februari 2012 ini. [Reuters/KCNA]

Korea Utara telah setuju untuk mengizinkan para inspektur untuk memeriksa kegiatan pengayaan uraniumnya sebagai ganti bantuan pangan dari Amerika Serikat, demikian menurut para pejabat dari kedua negara.

Para penjabat Korea Utara dan AS membuat pernyataan bersama pada hari Rabu, 29 Februari 2012. Berita itu keluar satu hari setelah Laksamana AS Robert F. Willard, komandan Komando Pasifik AS, bersaksi di hadapan Komite Pasukan Bersenjata Senat AS mengenai kekhawatiran atas program nuklir Korea Utara.

“Untuk memperbaiki suasana berdialog dan menunjukkan komitmen untuk denuklirisasi, DPRK [Republik Demokratik Rakyat Korea, juga dikenal sebagai Korea Utara] telah setuju untuk menunda peluncuran misil jarak jauh, uji nuklir dan kegiatan nuklir di Yongbyon, termasuk kegiatan pengayaan uranium,” demikan kata juru bicara Departemen Luar Negeri, Victoria Nuland.

“DPRK juga telah menyetujui kembalinya para inspektur IAEA [Badan Energi Atom Internasional] untuk memeriksa dan mengawasi penundaan kegiatan pengayaan uranium di Yongbyon dan memastikan dilumpuhkannya reaktor 5-MW dan sarana yang terkait.”

Direktur Jenderal IAEA Yukia Amano memuji kesepakatan tersebut.

“Pengumuman dari Amerika Serikat mengenai pembicaraannya baru-baru ini dengan Republik Demokratik Rakyat Korea adalah langkah maju yang penting,” kata Amano. “Seperti pernah saya katakan sebelumnya, Badan ini memiliki peran penting dalam memeriksa program nuklir DPRK. Sampai adanya perincian lebih lanjut, kami siap kembali ke Yongbyon untuk melaksanakan kegiatan pengawasan jika diminta dan dengan persetujuan Dewan Gubernur dari Badan.”

Willard berbicara pada hari Selasa mengenai cita-cita Korea Utara untuk menjadi kekuatan nuklir dalam pernyataan yang disiapkan sebelumnya kepada komite Senat.

“DPRK terus menjadi salah satu ancaman paling mungkin dan berkelanjutan bagi Amerika Serikat, para sekutunya, dan bagi perdamaian dan keamanan di Asia Timur Laut. Ancaman militer secara umum dari Korea Utara terhadap Republik Korea tetap menjadi kekhawatiran serius dan program nuklir, pengembangan misil, kegiatan proliferasi, dan provokasi militer yang asimetris menjadikan keadaan tidak stabil.

“Secara keseluruhan, ancaman-ancaman ini perlu diatasi dengan kemampuan dan kesanggupan yang tinggi dari Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian USPACOM untuk dapat melihat seluruh peralatan militer DPRK dan memperingatkan jika ada perkembangan yang buruk. Upaya Korea Utara yang berlanjut untuk mempunyai senjata nuklir dan sistem pergerakan misil mutakhir membahayakan pertahanan misil balistik USPACOM dan kerja sama yang erat dengan para sekutu.

“Jepang dan ROK adalah sekutu erat AS yang menjadi tuan rumah pasukan AS, mendapat keuntungan dari pencegahan berlanjut AS, dan berdiri bersama AS dalam membatasi serbuan DPRK, selain menghadapi tantangan keamanan global regional lainnya.”

Para penyumbang pangan utama bagi Korea Utara menghentikan program selama dua tahun terakhir dalam usaha membuat Pyongyang meninggalkan program pengembangan senjata nuklirnya. Presiden Lee dari Korea Selatan menawarkan pembaruan bantuan pangan bagi Utara dalam pernyataan Tahun Baru, akan tetapi hanya jika Utara setuju untuk mengekang program nuklirnya.

Asia Pacific Defense Forum melaporkan bahwa negara itu perlu bantuan dari AS dan negara-negara lainnya pada bulan Januari segera setelah Kim Jong-un menjadi pemimpin Korea Utara setelah kematian ayahnya, Kim Jong-il.

“Masalah pangan merupakan masalah utama dalam membangun negara yang makmur,” demikian tulis sebuah tajuk rencana dari Kantor Berita Pusat Korea milik negara pada tanggal 1 Januari. Lebih dari sepertiga anak-anak Korea Utara mengalami kekurangan gizi parah dan angka itu terus meningkat, demikian menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sampai sejumlah 3 juta orang – 12 persen dari seluruh populasi Utara – menderita kekurangan gizi, lapor PBB pada bulan November.

 

Beri Peringkat Artikel ini

Peringkat Saat Ini: 2.8 / 5 (327 suara)
 

Belum ada komentar untuk artikel ini. Anda ingin menjadi yang pertama?

 
Kirim Komentar

Kebijakan Komentar APD Forum

* menunjukkan bidang yang wajib diisi




1500 karakter tersisa (1500 jumlah karakter maksimum)

Button