APDForum.com adalah versi online dari Asia-Pacific Defense Forum, yaitu sebuah jurnal militer profesional yang diterbitkan setiap kuartal oleh Komandan dari Komando Pasifik Amerika Serikat. APDForum.com menampilkan berita dan analisis mengenai Cina, India, Filipina, Vietnam, Jepang, kedua negara Korea, dan negara-negara Pasifik lainnya oleh para koresponden profesional. APDForum.com dan The Asia-Pacific Defense Forum menyediakan sebuah forum internasional bagi personel militer di wilayah-wilayah Asia dan Pasifik.

Cina bekerjasama dengan Filipina dan AS untuk menyelesaikan perselisihan di Laut Cina Selatan

2012-07-19
Oleh Jean Magdaraog Cordero
Klaim maritim nasional di Laut Cina Selatan merupakan kekacauan perbatasan yang tumpang-tindih. Klaim Cina meliputi perairan terluas dan terdalam. [Sumber: David Rosenberg www.southchinasea.org]

Klaim maritim nasional di Laut Cina Selatan merupakan kekacauan perbatasan yang tumpang-tindih. Klaim Cina meliputi perairan terluas dan terdalam. [Sumber: David Rosenberg www.southchinasea.org]

Cina mengambil langkah-langkah untuk menyelesaikan perselisihan wilayah di Laut Cina Selatan, termasuk pertemuan dengan para pejabat Amerika Serikat di Kamboja untuk berdiskusi dan menawarkan tanggapan positif kepada Filipina ketika negara tersebut merayakan kemerdekaannya bulan lalu.

Diskusi di Kamboja pada 12 Juli 2012 yang dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Cina Yang Jiechi dan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, berfokus pada perselisihan wilayah di Laut Cina Selatan.

Beberapa dari diskusi mereka meliputi sebuah proposal Kode Etik Perilaku oleh Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara [ASEAN] untuk mengurangi perselisihan semacam itu.

Setelah pertemuan Kamboja, para pejabat AS mengatakan Yang memberikan indikasi bahwa Cina akan bersedia hadir dalam diskusi-diskusi di masa depan.

Clinton menekankan bahwa kedua negara harus bekerjasama dengan para anggota ASEAN.

“Ini merupakan pertanda penting bahwa AS dan Cina tidak saja bisa, tapi akan bekerjasama di Asia,” ungkap Clinton.

Bulan lalu, Presiden Filipina Benigno Aquino III menekankan pentingnya bekerjasama dalam persahabatan dan perdamaian untuk menyelesaikan masalah-masalah di wilayah itu.

Presiden Filipina Benigno Aquino III, di depan, dan anggota kabinetnya memberi hormat saat bendera nasional dikibarkan untuk memperingati Hari Kemerdekaan ke-114 negara tersebut di gereja Barasoain di kota Malolos, provinsi Bulacan, Manila utara, pada 12 Juni 2012. [Reuters]

Presiden Filipina Benigno Aquino III, di depan, dan anggota kabinetnya memberi hormat saat bendera nasional dikibarkan untuk memperingati Hari Kemerdekaan ke-114 negara tersebut di gereja Barasoain di kota Malolos, provinsi Bulacan, Manila utara, pada 12 Juni 2012. [Reuters]

Bicara di hadapan korps diplomatis pada resepsi sosial berkenaan dengan hari kemerdekaan Filipina ke-114 di Istana Malacanang, Aquino mengatakan bahwa sebagai sebuah bangsa, “kita juga menginginkan perdamaian dan kesejahteraan untuk wilayah kita dan untuk seluruh dunia – landasan untuk maju bagi semua.”

“Ketika kami bekerja untuk membawa kesejahteraan menyeluruh bagi rakyat kami, kami menyadari kebenaran yang mendasar ini: dalam dunia yang kian global, nasib nasional kita saling berjalin,” katanya.

“Ini memerlukan kerjasama, di mana kita menyelesaikan masalah bersama-sama, dan membangun lingkungan pergaulan yang dinamis bersama-sama,” katanya. Tanpa menyebut negara tertentu, Aquino mengatakan bahwa kesejahteraan tidak bisa datang dalam isolasi.

Pejabat Cina bergabung dengan seruan untuk niat baik

Duta Besar Cina Ma Keqing yang hadir dalam acara itu memuji pernyataan Aquino dan mengatakan kedua pihak harus bertindak dalam semangat saling menghargai dan itikad baik.

Ketegangan antara Filipina dan Cina telah meningkat pada bulan April setelah peristiwa di Karang Scarborough di mana kapal-kapal Cina menghalangi kapal-kapal Filipina yang dikirim untuk menangkap nelayan-nelayan Cina di laguna itu. Filipina mengklaim batu karang itu berada dalam Zona Ekonomi Eksklusif 200 mil laut dan beting kontinental mereka seperti yang tertuang dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut [UNCLOS].

Sementara itu, Cina mengklaim karang tersebut, yang bukan bagian dari Kepulauan Spratly yang jadi sengketa, dan hampir seluruh Laut Cina Selatan sebagai bagian dari wilayahnya berdasarkan sejarah.

Pada 5 Juni, Departemen Luar Negeri Filipina mengumumkan bahwa Cina memindahkan dua kapal pemerintah keluar dari laguna karang itu dan bahwa kapal biro perikanan Filipina melakukan hal yang sama.

Tanpa penjelasan lebih lanjut, departemen itu mengatakan bahwa kedua pihak “melanjutkan konsultasi untuk menyelesaikan masalah-masalah lainnya.”

Dalam pidatonya, Aquino mengatakan bahwa administrasinya telah mengikrarkan kebijakan keterlibatan dengan dunia yang bersifat membangun dan bertanggung jawab, “jadi kami juga meminta semua negara untuk bekerja bersama kami, untuk mencapai potensi maksimal rakyat kita.”

“Di dunia di mana tantangan saat ini mungkin memaksa negara-negara untuk melihat ke dalam, mari kita putuskan untuk bekerjasama dalam persahabatan dan perdamaian," katanya.

Sehari setelah Filipina merayakan hari kemerdekaannya, pada 13 Juni negara tersebut menandai hari jadi ke-37 berdirinya hubungan diplomatis Filipina-Cina. Secara khusus mengacu Cina, Aquino mengatakan bahwa kedua negara harus saling menghargai kedaulatan mereka di bawah hukum internasional jika mereka ingin menyelesaikan perselisihan wilayah.

Presiden berkata bahwa kedua negara mendesak upaya untuk menyelesaikan situasi itu secara damai melalui diplomasi. Namun, Aquino berkata bahwa dia telah bersumpah untuk mempertahankan Undang-Undang dan kedaulatan serta integritas wilayah Filipina.

“Luas wilayah dan zona maritim kami telah ditetapkan dengan jelas oleh hukum Filipina dan hukum internasional, terutama Konvensi PBB 1982 tentang Hukum Laut,” katanya.

“Sebagai anggota komunitas internasional, kita harus saling menghargai kedaulatan kita di bawah hukum internasional,” tambah Aquino.

Presiden mengatakan bahwa Filipina dan Cina telah mendapat momentum dalam menyelesaikan perselisihan tersebut melalui penurunan ketegangan di Karang Scarborough.

“Kita harus mempertahankan momentum ini. Lagi pula, kedua negara kita menyadari bahwa perdamaian dan stabilitas di wilayah itu tidak saja akan menguntungkan kita tapi juga seluruh dunia. Sebagai akibat, ketegangan di sana mempengaruhi seluruh komunitas global,” katanya.

Duta Besar Keqing mengatakan bahwa masalah itu hanyalah bagian kecil dari hubungan keseluruhan antara kedua negara.

“Pepatah mengatakan bahwa tidak ada persahabatan yang sempurna, kita harus menghadapi perselisihan yang ada di Laut Cina Selatan dengan ketulusan dan rasionalitas,” tutur Ma.

Dia mengatakan bahwa Cina berkomitmen untuk menyelesaikan perselisihan itu, tapi dia mengemukakan bahwa kedua pihak harus bertindak dalam semangat saling menghargai dan itikad baik.

Lebih lanjut dia mengemukakan bahwa Cina akan menaati prinsip dialog diplomatis dan kedua pihak harus berkompromi untuk mendapatkan solusi jangka panjang.

Sang duta besar membacakan ucapan selamat dari Presiden Cina Hu Jintao kepada Aquino atas perayaan Hari Kemerdekaan Filipina ke-114 dan hari jadi ke-37 hubungan diplomatis Filipina-Cina.

Dalam pidatonya, Aquino menyebutkan perdagangan bilateral antara kedua negara itu sebagai salah satu dari begitu banyak kemitraan antara kedua negara.

Presiden mengemukakan bahwa pada tahun 2011, hampir 1 juta warga Filipina mengunjungi Cina dan lebih dari 200.000 warga Cina berkunjung ke Filipina.

Pada tahun yang sama, negara itu mendapat keuntungan lebih dari 12 milyar dolar dari perdagangan bilateral dan 477 juta dolar [20 milyar peso Filipina] dari investasi langsung luar negeri dari Cina. Dari perdagangan bilateral, investasi Filipina senilai 3 milyar dolar ditanamkan di Cina.

“Pada akhirnya, kami melihat hubungan historis dan saling menguntungkan antara kedua negara,” katanya.

“Jadi yang harus kami lakukan sekarang adalah terus menguatkan kerjasama di beberapa area yang terbukti saling menguntungkan. Dan terus bekerja tanpa kenal lelah untuk menemukan solusi damai dan diplomatis di wilayah sengketa,” kata Aquino.

 

Beri Peringkat Artikel ini

Peringkat Saat Ini: 3.1 / 5 (160 suara)
 

Belum ada komentar untuk artikel ini. Anda ingin menjadi yang pertama?

 
Kirim Komentar

Kebijakan Komentar APD Forum

* menunjukkan bidang yang wajib diisi




1500 karakter tersisa (1500 jumlah karakter maksimum)

Button