APDForum.com adalah versi online dari Asia-Pacific Defense Forum, yaitu sebuah jurnal militer profesional yang diterbitkan setiap kuartal oleh Komandan dari Komando Pasifik Amerika Serikat. APDForum.com menampilkan berita dan analisis mengenai Cina, India, Filipina, Vietnam, Jepang, kedua negara Korea, dan negara-negara Pasifik lainnya oleh para koresponden profesional. APDForum.com dan The Asia-Pacific Defense Forum menyediakan sebuah forum internasional bagi personel militer di wilayah-wilayah Asia dan Pasifik.

Perselisihan dengan Vietnam memanas karena Cina mengundang penawaran minyak di Laut Cina Selatan

2012-07-26
Oleh Rohit Wadhwaney
Para demonstran menyerukan slogan anti-Cina sementara berdiri di sebuah monumen pahlawan perang pada sebuah demonstrasi di Hanoi. Ratusan warga Vietnam berdemonstrasi menentang tindakan Cina yang memperkuat klaim mereka atas kepulauan yang disengketakan di Laut Cina Selatan dan undangan mereka pada beberapa perusahaan minyak untuk membeli blok di area lepas pantai yang telah diklaim Vietnam sebagai wilayahnya. [Reuters]

Para demonstran menyerukan slogan anti-Cina sementara berdiri di sebuah monumen pahlawan perang pada sebuah demonstrasi di Hanoi. Ratusan warga Vietnam berdemonstrasi menentang tindakan Cina yang memperkuat klaim mereka atas kepulauan yang disengketakan di Laut Cina Selatan dan undangan mereka pada beberapa perusahaan minyak untuk membeli blok di area lepas pantai yang telah diklaim Vietnam sebagai wilayahnya. [Reuters]

Saat Majelis Nasional Vietnam mengadopsi sebuah undang-undang pada 21 Juni yang menempatkan beberapa kepulauan Spratly dan Paracel di bawah kekuasaan Hanoi, Cina segera menyatakan ketidaksetujuan mereka.

Kongres Rakyat Nasional Cina segera mengeluarkan pernyataan bahwa tindakan Vietnam adalah sebuah “pelanggaran serius atas kedaulatan teritorial Cina … tidak sah dan cacat hukum.”

Lalu pada saat yang sama, Kementerian Luar Negeri Cina mengumumkan rencana untuk membentuk pemerintahan setingkat kota untuk rangkaian kepulauan Spratly dan Paracel dalam upaya untuk menegaskan kendali mereka di Laut Cina Selatan.

Seminggu kemudian, Perusahaan Minyak Lepas Pantai Nasional Cina [CNOOC] membuka sembilan blok baru di Laut Cina Selatan, yang diyakini mengandung kandungan minyak dan gas bumi yang banyak, dan kemudian ditawarkan kepada beberapa perusahaan minyak untuk dieksplorasi. Hal ini memicu gelombang protes anti-Cina di Vietnam.

Ketegangan antara kedua negara terus meningkat seiring dengan pembukaan penawaran yang dilakukan CNOOC untuk beberapa blok yang meliputi wilayah 160 kilometer persegi di tengah Laut Cina Selatan, dengan batas barat beberapa blok tersebut yang berada dalam zona ekonomi eksklusif [ZEE] 200 mil laut Vietnam.

Grup minyak dan gas milik pemerintah Vietnam, Petrovietnam, menyatakan bahwa satu dari sembilan blok yang ditawarkan tersebut berada di 37 mil laut dari provinsi kepulauan di selatan negara itu, Binh Thuan.

Seiring dikuasainya jalan-jalan di Hanoi dan Ho Chi Minh City oleh para demonstran Vietnam yang menyerukan slogan-slogan anti-Cina, pemerintah Vietnam memberi peringatan pada Cina: “Kami tidak akan membiarkan dilakukannya kegiatan eksplorasi itu.”

Meskipun pemerintah Vietnam jarang mengizinkan demonstrasi umum, menurut para demonstran polisi tidak berusaha untuk membubarkan massa.

Dalam demo anti-Cina yang kedua pada 8 Juli, lebih dari 200 demonstran memenuhi jalan-jalan di Hanoi dan melambaikan poster serta berseru, “Paracel – Vietnam! Spratly – Vietnam!”

Pasukan keamanan menghentikan para demonstran 100 meter dari kedutaan besar Cina di kota itu, namun tidak melakukan penahanan.

Klaim Cina sejak 1930-an

Klaim “kedaulatan tak terbantahkan” Cina atas Laut Cina Selatan dimulai sejak tahun 1930-an saat peta resmi dari Beijing mencakup seluruh wilayah laut tersebut sebagai wilayah Cina.

Sebelumnya, Cina dan Vietnam Selatan menguasai Paracel di bagian yang berbeda, namun setelah konflik singkat pada tahun 1974, Beijing merampas kendali atas keseluruhan kelompok kepulauan tersebut. Konfrontasi terakhir antara kedua negara pada 14 Maret 1988 berujung pada konflik berdarah atas Karang Selatan Johnson.

Selain Cina daratan dan Vietnam, Taiwan, Malaysia, Filipina dan Brunei juga mengklaim kedaulatan utuh atau sebagian atas Laut Cina Selatan.

Hingga pertikaian terakhir, Cina lebih sering menggunakan kapal tak bersenjata atau bersenjata ringan saat berkonfrontasi dengan negara tetangga mereka.

Tapi seorang juru bicara kementerian pertahanan Cina menyatakan bahwa Cina telah mulai melakukan “patroli siap-tempur” di perairan sekitar kelompok kepulauan Paracel dan Spratly.

“Dalam rangka melindungi kedaulatan nasional serta kepentingan keamanan dan pembangunan kami, kemiliteran Cina telah menyiapkan sebuah sistem patroli siap tempur biasa di perairan yang ada di bawah kekuasaan kami,” ungkap juru bicara tersebut.

Pesan Cina kepada Vietnam: Jangan memperkeruh situasi

Hong Lei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, mendesak Vietnam untuk mematuhi konsensus yang disepakati antara kedua negara tentang penyelesaian perselisihan dan membatalkan rencana apapun yang akan mempertajam atau memperparah situasi.

Dia memperingatkan Vietnam agar tidak melanjutkan kegiatan eksplorasi minyak dan gas yang melanggar kedaulatan Cina.

Hong menambahkan bahwa Cina berkomitmen untuk menyelesaikan perselisihan melalui negosiasi dan terbuka untuk proyek-proyek eksplorasi gabungan dengan Vietnam.

Sun Xiaoying, seorang peneliti kajian Asia Tenggara di Akademi Ilmu Sosial Guangxi di Cina, mengatakan bahwa Cina telah melakukan langkah-langkah terobosan dengan menetapkan kota-kota sebagai pusat pemerintahan untuk mengawasi perairan yang disengketakan dan mengundang penawaran luar negeri.

“Ini bukan saatnya bagi Cina untuk bermanis-manis,” demikian pernyataannya sebagaimana dikutip di koran Global Times Cina.

Wakil Menteri Pertahanan Vietnam Nguyen Chi Vinh menanggapi bahwa negaranya harus mempertahankan diri di wilayah tersebut.

“Kita harus mengandalkan sumber daya kita sendiri – baik politik, diplomatik, ekonomi, dan pertahanan – untuk melindungi kemerdekaan dan kedaulatan kita. Tidak bergantung kepada negara lain,” tegas Vinh dalam pertemuan tambahan dalam dialog tiga hari Shangri-La, sebuah forum keamanan Asia-Pasifik.

Dia menambahkan bahwa “kekuatan persatuan nasional dan dukungan komunitas internasional adalah kekuatan politik” yang diperlukan Vietnam untuk meraih kemenangan.

Vinh mengatakan bahwa adalah hal penting untuk membedakan antara dukungan internasional dan ketergantungan kepada negara lain untuk menyelesaikan pertikaian.

“Jika kita bergantung atau membiarkan kesalahpahaman muncul bahwa kita tergantung pada kekuatan negara lain untuk menyelesaikan masalah, maka itu akan berbahaya,” ungkapnya kepada koran Vietnam Thanh Nien sambil menambahkan, “Saat pendukung Anda mundur atau bersepakat dengan pihak lawan, maka Anda akan menjadi korban pertama dari pilihan yang salah tersebut.”

Wakil menteri pertahanan itu amat mendorong negara-negara yang berkonflik untuk mematuhi Konvensi Hukum Kelautan PBB [UNCLOS] tahun 1982, yang memberikan negara kepulauan hak-hak kedaulatan dan yurisdiksi mereka atas garis pantai dan ZEE yang mencakup 200 mil laut dari pantai.

Vinh berharap bahwa ketegangan antara Vietnam dan Cina akan berkurang dengan dilakukannya upaya terus menerus.

“Dalam beberapa tahun belakangan kami telah, selangkah demi selangkah, membangun dasar yang terpercaya bagi hubungan antara kedua negara [untuk dapat berkembang]. Tapi kami tidak dapat terlalu optimis dan harus terus mengambil langkah praktis dan mendetail,” tambahnya.

Kunjungan resmi Vietnam dilihat sebagai titik balik

Vinh memandang kunjungan Sekretaris Jendral Vietnam Nguyen Phu Trong ke Cina pada Oktober silam sebagai titik balik penting untuk ikatan Sino-Vietnam karena kedua pihak menandatangani prinsip-prinsip dasar untuk menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan lautan.

Kedua negara berkomitmen untuk menyelesaikan permasalahan kelautan secara damai dan sesuai dengan hukum internasional berdasarkan kesepakatan tersebut.

“Itu terjadi saat timbul kekhawatiran mendalam tentang perselisihan, perbedaan dan konflik antara Vietnam dan Cina. Sehingga kemudian situasi mendingin dengan cepat,” ungkap Vinh.

“Dalam hal pertahanan, kedua negara telah meningkatkan kerjasama dalam hal Angkatan Laut, pertahanan perbatasan, dan kemiliteran. Kekuatan ekonomi juga berupaya untuk meningkatkan kerjasama dan perdagangan. Pelanggaran para nelayan di laut dihadapi dengan ringan, terutama oleh pihak Vietnam.”

Vinh mengatakan bahwa Vietnam telah menjadi lebih terbuka dan transparan tentang permasalahannya dengan Cina dan rencananya untuk meningkatkan ikatan bilateral. “Kebijakan kami adalah untuk terbuka tentang komitmen di antara Vietnam dan Cina, dan untuk menyatakan dengan jelas bahwa kami menghormati kedaulatan dan kesejahteraan negara regional lainnya serta keuntungan ekonomi yang mungkin dicapai oleh negara-negara non-regional di Laut Timur [Laut Cina Selatan]."

Pada 20 Juli, ASEAN mengeluarkan pernyataan enam poin sehubungan dengan Laut Cina Selatan, tapi menghapus masalah kontroversial yang menyebabkan perselisihan antara anggota-anggotanya. Pernyataan tersebut disertai seruan untuk menahan diri dan berdialog terkait dengan tindakan Cina di wilayah itu.

 

Beri Peringkat Artikel ini

Peringkat Saat Ini: 3.4 / 5 (239 suara)
 
 
Kirim Komentar

Kebijakan Komentar APD Forum

* menunjukkan bidang yang wajib diisi




1500 karakter tersisa (1500 jumlah karakter maksimum)

Button

Komentar Pembaca

 

谷子 tentang 15/09/2012 di 09:37AM

Vietnam seharusnya mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasi isu Laut Cina Selatan dan tidak mengikuti negara-negara lain yang merenggangkan hubungan dengan Cina. Intinya adalah mempertahankan hubungan antara Cina dan Vietnam. Vietnam seharusnya menyelesaikan pertikaian melalui negosiasi dan perjanjian dalam ikatan bilateral berdasarkan peraturan internasional. Negara itu seharusnya menolak untuk dimanipulasi oleh mereka yang ingin mengeksploitasi atau mencoba berbuat curang. Jika melihat ke belakang, bangsa Cina telah membantu Vietnam menjadi negara merdeka dengan mengorbankan jiwa dan darah mereka sendiri dan membantu negara itu dengan mengirimkan suplai dan persenjataan, menandakan bahwa Cina adalah pendukung besar bagi keberadaan Vietnam saat ini. Vietnam seharusnya tidak melupakan sejarah dan temannya. Karena Cina dan Vietnam bertetangga, saling berdampingan secara bersahabat akan membawa kesejahteraan bagi rakyat kedua negara.