APDForum.com adalah versi online dari Asia-Pacific Defense Forum, yaitu sebuah jurnal militer profesional yang diterbitkan setiap kuartal oleh Komandan dari Komando Pasifik Amerika Serikat. APDForum.com menampilkan berita dan analisis mengenai Cina, India, Filipina, Vietnam, Jepang, kedua negara Korea, dan negara-negara Pasifik lainnya oleh para koresponden profesional. APDForum.com dan The Asia-Pacific Defense Forum menyediakan sebuah forum internasional bagi personel militer di wilayah-wilayah Asia dan Pasifik.

Indonesia fokus dalam menghentikan ancaman teror

2012-09-25
Analisis oleh Martin Sieff
Polisi anti-teror Indonesia berjaga di lokasi penembakan bulan Maret 2012 di Sanur, Bali. Polisi Indonesia telah menembak mati lima tersangka militan yang memiliki kaitan dengan kelompok terlarang Jemaah Islamiyah. [Reuters]

Polisi anti-teror Indonesia berjaga di lokasi penembakan bulan Maret 2012 di Sanur, Bali. Polisi Indonesia telah menembak mati lima tersangka militan yang memiliki kaitan dengan kelompok terlarang Jemaah Islamiyah. [Reuters]

Pasukan keamanan Indonesia telah berhasil menggagalkan rencana kaum ekstremis Islam untuk meledakkan gedung perwakilan rakyat dan anggotanya di ibukota Jakarta. Rincian rencana dipublikasikan setelah peristiwa baku-tembak pada malam bulan Agustus di Solo, tempat terbunuhnya dua tersangka teroris.

Pasukan keamanan mengetahui rencana penyerangan gedung perwakilan rakyat serta pembantaian anggotanya, ketika seorang tersangka teror ditangkap pada bulan Juli, demikian dari publikasi wawancara Agence-France Presse [AFP] bersama Inspektur Jenderal Ansyaad Mbai, kepala dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme [BNPT] Indonesia. Tersangka itu - yang namanya tidak dipublikasikan - kemudian memberi tahu polisi mengenai rincian rencana penyerangan tersebut, dan menyatakan bahwa dia telah memeriksa bangunan yang menjadi sasaran sebanyak tiga kali.

Mbai mengatakan bahwa rencana untuk menyerang perwakilan rakyat berasal dari sel teroris Jemaah Islamiyah [JI], yang telah melakukan serangkaian serangan besar terhadap orang asing di Indonesia satu dekade yang lalu.

“Terdapat beberapa kelompok kecil dengan kegiatan terselubung yang tidak berhubungan satu sama lain, namun semuanya berasal dari Jemaah Islamiyah dan Jemaah Anshorut Tauhid [JAT],” demikian informasi Mbai kepada AFP.

Penyerbuan bulan Agustus yang telah menuai keberhasilan tersebut adalah terhadap salah satu sel JAT, sehari setelah perwira polisi senior, Kepala Brigadir Dwi Data Subekti, dibunuh oleh sel teror yang sama di tengah serangan terhadap kantor polisi di Solo.

“Serangan-serangan terbaru ini memang merupakan pertanda mengkhawatirkan dari kebangkitan aktivitas terorisme atas nama Islam, tidak hanya di pulau Jawa namun juga di bagian lain kepulauan Indonesia,” demikian tulisan analis Sumanto Al Qurtuby dari Universitas Notre Dame di Indiana, yang dimuat dalam Jakarta Post pada bulan September.

Pasukan Khusus menarget sel teroris

Penyerbuan pada bulan Agustus adalah keberhasilan lainnya bagi BNPT yang juga dikenal sebagai Densus 88 [Detasemen Khusus 88]. BNPT mengkonfirmasi kesuksesan badan tersebut dan pasukan keamanan lain di Indonesia dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Pasukan ini telah mencegah beberapa serangan teroris besar di negara yang memiliki penduduk Muslim terbanyak di dunia ini selama tiga tahun terakhir, di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sesuai yang dilaporkan oleh Jakarta Globe pada bulan September, serbuan tersebut telah memberikan kemajuan bermakna bagi pasukan keamanan dalam menghadang gelombang terbaru serangan teror yang secara utama diarahkan terhadap kepolisian di Solo serta wilayah sekitarnya.

Kepala BNPT, Mbai, menghubungkan serangan teror di Solo dengan JAT, yang didirikan pada tahun 2008 oleh pemimpin agama Islam dan teroris terhukum Abu Bakar Bashir. Departemen Luar Negeri AS memasukkan JAT dalam daftar kelompok teroris pada bulan Februari. Bashir juga merupakan pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia.

Mbai menyebut kelompok yang bertanggung jawab secara langsung terhadap serangan-serangan tersebut adalah Tim Hisbah Solo [THS] yang memiliki markas lokal di daerah Solo dan memiliki keterkaitan dengan JAT dan Bashir. Pada bulan Agustus THS menyerang dan dua orang menembak seorang perwira polisi. Sebelumnya, para perwira polisi beserta markas-markas kepolisian di Solo juga telah diserang secara terpisah.

Polisi mengidentifikasi Farhan Mujahidin, salah satu tersangka yang terbunuh dalam penyerbuan tersebut, sebagai tokoh senior dalam usaha ekstremis yang mengatasnamakan Islam untuk membangkitkan kembali jaringan sel teror yang efektif di seluruh Indonesia. Sebelumnya dia adalah seorang siswa berprestasi di pusat pelatihan teroris yang diidentifikasi oleh pasukan keamanan sebagai pesantren Al-Mukmin Ngruki, yang dikelola oleh Bashir.

Jakarta Globe juga menyebut Farhan sebagai anak tiri laki-laki dari teroris lain, Abu Omar, yang ditahan setelah dakwaan penyelundupan senjata dari Filipina ke Indonesia. The Globe menyebutkan bahwa pada tahun 2010, ketika Farhan masih berada di Filipina, dia dan Omar telah menyusun rencana untuk meluncurkan serangan teror ke Kedutaan Singapura di Jakarta. Indonesia, Singapura dan Filipina merupakan anggota ASEAN, Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara yang beranggotakan 10 negara.

Polisi juga menangkap tersangka teroris ketiga selama penyerbuan tersebut, yang kemudian diidentifikasi sebagai Bayu Setiono.

“Kami berencana untuk membunuh para polisi dan menciptakan situasi seperti di Ambon dan Poso, demi menegakkan Syariah Islam dan pendirian kekhalifahan di Indonesia,” demikian pengakuan Setiono, 22 tahun, dalam video hasil rekaman polisi dan disiarkan televisi nasional setelah penangkapannya. “Sejak tahun 2007, target kami hingga saat ini adalah orang-orang kafir dan polisi.”

Seorang tersangka keempat dari kelompok teroris, Firman Firmansyah, ditangkap pada tanggal 5 September di kota Depok, Jawa Barat. Dia dicurigai mengendarai sepeda motor dalam peristiwa penyerangan pada bulan Agustus tersebut.

Pasukan Khusus fokus pada strategi 'buru dan bunuh'

Mbai memperingatkan bahwa walaupun telah ada keberhasilan dalam penangkapan tersangka teroris, kelompok JAT Bashir tetap harus dianggap berbahaya. “Selama komandan mereka masih bisa berbicara, jaringan mereka masih kuat,” demikian kutipan Jakarta Globe terhadap pernyataannya.

Mbai berkata bahwa Rizki Gunawan, seorang aktivis JAT yang memiliki keahlian dalam teknologi informasi, bersama dengan dua agennya telah berhasil mengumpulkan milyaran rupiah [mata uang Indonesia] melalui peretasan ke situs web pemasaran online. Kelompok tersebut kemudian menyalurkan ratusan juta rupiah ke kamp pelatihan teroris JAT di Poso, pesisir barat laut pulau Sulawesi Tengah. Para petugas anti teror mengatakan bahwa JAT masih meneruskan rencana mereka untuk meluncurkan gelombang serangan baru di Solo, Poso, dan Jakarta.

Pada bulan Juli, para petugas BNPT menangkap dua orang yang dituduh sebagai tersangka teror JAT – Qhoribul Mujib, 25 tahun, dan Naim, 26 tahun – mereka diyakini telah merencanakan serangan bom bunuh diri di Poso.

Adalah kesalahan bila meremehkan potensi berbahaya JI maupun JAT, dan juga kelompok terkaitnya. Di bawah kepemimpinan Presiden Yudhoyono, selama delapan tahun JI telah dipaksa mundur dan bertahan. Bahkan usaha JAT baru-baru ini untuk menciptakan kebangkitan kecil di Jawa tengah, tidak disangkal lagi merupakan saksi bagi kesuksesan pasukan keamanan dalam mendorong kelompok teror yang mengatasnamakan Islam ini lebih jauh lagi dari Jakarta yang berpenduduk padat - lebih dari 10 juta orang - dan mencegah kelompok ini melakukan serangan teror yang dahsyat.

Para pakar anti teror dari AS sebelumnya telah mengutarakan kekhawatiran mengenai apa yang mereka anggap sebagai kegagalan pendahulu Yudhoyono, Presiden Megawati Sukarnoputri, untuk meningkatkan kerja sama dalam anti pemberontakan dan anti terorisme internasional. Para ahli memandang serangan teror Jemaah Islamiyah pada tahun 2002 di klub malam Bali - yang menewaskan 202 orang, kebanyakan adalah wisatawan muda dari Australia - serta pemboman Hotel JW Marriott pada tahun 2003 di Jakarta yang menewaskan 12 orang serta mencederai 150 lainnya, sebagai akibat dari kurangnya perhatian terhadap masalah ini.

Namun Yudhoyono, yang sebelumnya merupakan jenderal senior ABRI, telah menganggap serius ancaman teror yang mengatasnamakan Islam ini, dan bekerja sama secara dekat dengan pemerintah ASEAN lainnya serta usaha dari pihak internasional untuk memerangi ancaman teroris.

Serangan teror besar terbaru terhadap orang asing di Indonesia telah meningkat melalui serangkaian pemboman di Jakarta, di hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton pada tahun 2009. Sembilan orang tewas dalam insiden tersebut. Setelah serangan tersebut, pasukan keamanan Indonesia memburu dan membunuh Noordin Mohammed Top, mantan ketua ahli bahan peledak untuk JI.

Top meninggalkan sel teroris JI dan kemudian membentuk Tanzim Qaedat al-Jihad – kelompok ini dilaporkan sebagai kelompok kecil yang lebih kejam. BNPT membunuh Top yang berusia 41 tahun dalam serangan pada bulan September di persembunyiannya di Solo. Sejak kematiannya, tidak ada lagi satupun pemimpin pergerakan bawah tanah dengan atas nama Islam yang berhasil mendekati kemampuan Top untuk menciptakan bom maut, dan mengorganisir suatu serangan pembantaian yang cukup berhasil.

Kekerasan teroris berbelit dengan pertumbuhan ekonomi

Indonesia menarik perhatian karena berhasil melakukan peralihan ke demokrasi penuh, dari tahun 1998 hingga 2000, mengikuti kediktatoran Presiden Suharto yang telah berlangsung selama 32 tahun. Selama delapan tahun terakhir, Indonesia juga telah menjadi teladan dalam keberhasilan suatu bangsa Muslim dan demokratis untuk memerangi terorisme dan bersikap keras terhadap hal tersebut.

Ini adalah tugas yang menantang.

Dengan populasi yang mendekati 240 juta jiwa, Indonesia adalah negara ke-12 yang berpenduduk terbanyak di dunia, yang menghuni 13.000 pulau di negara kepulauan ini. Jawa, yang merupakan jantung negara, adalah salah satu pulau dengan populasi terpadat di dunia, dengan lebih dari 135 juta orang berdesakan dalam wilayah hanya seluas 138.794 kilometer persegi. Pertumbuhan ekonomi telah mengesankan selama dekade terakhir, namun kondisi dasar ini membuat populasi Jawa menarik minat para perekrut ekstremis.

Dalam tulisannya di Jakarta Post, Al-Qurtuby mengakui bahwa keberhasilan Indonesia di tahun-tahun terakhir dalam memerangi terorisme disebabkan karena fokus negara tersebut pada "antiterorisme taktis" yang menganut strategi mencari, menghancurkan, serta mengalahkan sel teroris operatif.”

“Melawan ancaman terorisme yang bersegi banyak dan kompleks,“ lanjut Al-Qurtuby, “membutuhkan usaha kerja sama luas yang melibatkan kerja sama di bidang agama, hukum, ekonomi, politik, budaya, dan militer, dari semua organisasi serta kelompok di negara tersebut.”

 

Beri Peringkat Artikel ini

Peringkat Saat Ini: 3.0 / 5 (414 suara)
 

Belum ada komentar untuk artikel ini. Anda ingin menjadi yang pertama?

 
Kirim Komentar

Kebijakan Komentar APD Forum

* menunjukkan bidang yang wajib diisi




1500 karakter tersisa (1500 jumlah karakter maksimum)

Button