APDForum.com adalah versi online dari Asia-Pacific Defense Forum, yaitu sebuah jurnal militer profesional yang diterbitkan setiap kuartal oleh Komandan dari Komando Pasifik Amerika Serikat. APDForum.com menampilkan berita dan analisis mengenai Cina, India, Filipina, Vietnam, Jepang, kedua negara Korea, dan negara-negara Pasifik lainnya oleh para koresponden profesional. APDForum.com dan The Asia-Pacific Defense Forum menyediakan sebuah forum internasional bagi personel militer di wilayah-wilayah Asia dan Pasifik.

Pesawat angkut Y-20 buatan Cina jalankan uji penerbangan perdana

2013-01-30
Oleh Roseanne Gerin
Saluran televisi Cina CCTV memperlihatkan Y-20, pesawat angkut berat baru Cina, pada saat melakukan uji operasi. [AFP/CCTV]

Saluran televisi Cina CCTV memperlihatkan Y-20, pesawat angkut berat baru Cina, pada saat melakukan uji operasi. [AFP/CCTV]

Purwarupa pesawat angkut berat buatan dalam negeri Cina terbesar melakukan uji penerbangan perdana pada tanggal 26 Januari, yang merupakan peristiwa penting dalam program modernisasi militer negara tersebut serta meningkatkan kemampuan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) untuk melaksanakan misi transportasi jarak jauh.

Keberhasilan uji penerbangan ini "memiliki arti yang sangat penting dalam memajukan pembangunan perekonomian dan modernisasi pertahanan nasional Cina, membantu menanggapi keadaan darurat seperti penyelamatan dan bantuan ketika terjadi bencana serta bantuan kemanusiaan," demikian menurut laporan di situs web Kementerian Pertahanan Nasional Cina.

Pesawat angkut strategis Y-20 yang diberi nama sandi "Kunpeng" lepas landas dari Markas Udara Yanliang di dekat Xi'an di barat laut Provinsi Shaanxi, Cina, yang merupakan lokasi pengembang utama pesawat tersebut, Xian Aircraft Industry [Group] Company Ltd. Perusahaan tersebut merupakan anak perusahaan dari perusahaan milik negara Aviation Industry Corporation of China [AVIC], pembuat pesawat militer utama negara tersebut.

Pesawat Y-20 memiliki panjang badan 47 meter, rentang sayap 45 meter, dan tinggi 15 meter. Pesawat tersebut mampu beroperasi dalam kondisi cuaca yang sangat buruk, demikian menurut laporan di situs web kementerian pertahanan.

Tiga anggota awak diperlukan untuk mengoperasikan Y-20, yang memiliki daya angkut maksimal 66 metrik ton dan berat lepas landas maksimal lebih dari 200 ton. Pesawat ini mampu mengangkut berbagai jenis kendaraan lapis baja milik PLA, termasuk tank terberat, seri Tipe 99. Disebutkan bahwa Y-20 memiliki kecepatan maksimum 800 kilometer per jam dan jarak jangkauan hampir 4.500 kilometer.

Pesawat Y-20, yang menggunakan empat mesin turbojet buatan Rusia, memiliki ukuran hampir sama dengan pesawat angkut Ilyushin IL-76 milik Rusia namun lebih kecil daripada C-17 Globemaster III milik Angkatan Udara AS. C-17 Globemaster III dibuat oleh Boeing, perusahaan dirgantara dan pertahanan multinasional yang berbasis di AS, yang merupakan perusahaan dirgantara dan kontraktor pertahanan terbesar kedua di dunia.

Dua purwarupa Y-20 sudah diproduksi - satu untuk uji terbang dan yang satunya lagi untuk uji statis - dan Y-20 disebutkan "memiliki kemiripan konfigurasi yang kontroversial dengan Boeing C-17," dalam laporan Aviation International News Online. Laporan tersebut menyebut bahwa pada tahun 2010, Dongfan "Greg" Chung, warga negara AS asal Cina yang bekerja sebagai insinyur di Boeing, dijerat hukuman 15 tahun penjara oleh AS karena memberikan rincian teknis program kedirgantaraan, termasuk C-17, kepada Cina.

Armada pesawat angkut Angkatan Udara PLA terdiri dari pesawat angkut Xian Y-7 dan Shaanxi Y-8 serta varian masing-masing seperti pesawat IL-76, demikian menurut laporan koran yang dipantau negara China Daily. Angkatan Udara mengirim empat IL-76 ke Libya pada akhir bulan Februari 2011 untuk mengevakuasi warga negara Cina yang terjebak di tengah-tengah runtuhnya rezim Muammar Qaddafi.

Pertanyaan besar sekarang adalah apakah Cina akan melengkapi Y-20 dengan mesin turbofan buatan sendiri. Dalam Pameran Kedirgantaraan Zhuhai yang diadakan pada bulan November lalu, para pejabat AVIC menyatakan bahwa mereka telah mengalami kemajuan yang bagus dalam pengembangan turbofan buatan dalam negeri, demikian menurut Aviation International News Online.

Para analis militer Cina Andrew Erickson dan Gabe Collins menyatakan bahwa uji terbang purwarupa Y-20 akan "membawa Cina selangkah lebih maju untuk bergabung dalam klub kedirgantaraan yang elit - negara-negara yang mampu memproduksi secara domestik pesawat angkut berat dengan jangkauan antar benua. Namun uji tersebut akan menyingkap - sekali lagi - kekurangan yang masih ada dalam kemampuan industri penerbangan domestik Cina dan menyoroti kelemahan strategis yang akan muncul ketika sebuah negara harus mengimpor mesin, yaitu jantung dari pesawat manapun," demikian menurut artikel dalam The Diplomat pada tanggal 8 Januari yang melaporkan tentang Y-20.

Pengembangan domestik pesawat angkut berat jarak jauh, termasuk program Y-20, merupakan salah satu prioritas dari "Program Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nasional Jangka Menengah dan Panjang [2006-2020]".

Seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional membenarkan secara publik pada akhir bulan Desember 2012 bahwa Cina sedang mengembangkan pesawat angkut besar setelah beberapa foto Y-20 muncul di internet.

"Kami sedang mengembangkan pesawat angkut besar sendiri untuk meningkatkan kemampuan angkutan udara," kata juru bicara Yang Yujun kepada wartawan.

Penerbangan perdana purwarupa Y-20 mengikuti dua peristiwa penting lainnya dalam bidang penerbangan militer belum lama ini - peluncuran pesawat tempur Cina J-15 serta lepas landas dan pendaratannya di kapal induk pertama negara tersebut, dan juga uji penerbangan perdana dari pesawat tempur siluman J-31 yang baru.

Pesawat Y-20 akan terus menjalani pengujian yang relevan serta uji penerbangan seperti yang sudah dijadwalkan, demikian menurut laporan di situs web kementerian pertahanan. Penelitian dan pengembangan terus berjalan, dan belum ada indikasi mengenai kapan pesawat tersebut akan mulai digunakan.

Yang menyatakan bahwa akan ada beberapa tahap yang harus dijalani sebelum pesawat tersebut dilengkapi peralatan, "karena teknologinya rumit."

"Kalau sudah digunakan, Y-20 akan memperkuat kemampuan pengangkutan jarak jauh PLA secara signifikan, yang sudah bertahun-tahun terhambat oleh tidak adanya pengangkut udara strategis yang dikembangkan secara domestik," demikian menurut laporan dalam China Daily

 

Beri Peringkat Artikel ini

Peringkat Saat Ini: 3.2 / 5 (207 suara)
 
 
Kirim Komentar

Kebijakan Komentar APD Forum

* menunjukkan bidang yang wajib diisi




1500 karakter tersisa (1500 jumlah karakter maksimum)

Button

Komentar Pembaca

 

tanto tentang 30/04/2013 di 06:24AM

Sebaiknya Indonesia perlu meniru China dalam pengaembangan pesawat gfuna menunjang perkembangan ekonomi,pertahanan,transportasi udara Indonesia.

Afzal tentang 10/02/2013 di 11:17AM

Cina telah mengalami kemajuan secara mantap dan diam-diam, dalam segala bidang. Kini Cina merupakan kekuatan militer yang besar di samping Amerika, dibandingkan dengan India.