APDForum.com adalah versi online dari Asia-Pacific Defense Forum, yaitu sebuah jurnal militer profesional yang diterbitkan setiap kuartal oleh Komandan dari Komando Pasifik Amerika Serikat. APDForum.com menampilkan berita dan analisis mengenai Cina, India, Filipina, Vietnam, Jepang, kedua negara Korea, dan negara-negara Pasifik lainnya oleh para koresponden profesional. APDForum.com dan The Asia-Pacific Defense Forum menyediakan sebuah forum internasional bagi personel militer di wilayah-wilayah Asia dan Pasifik.

Ancaman Korea Utara sasar Korea Selatan, Amerika Serikat

2013-01-30
Analisis oleh Martin Sieff
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menghadiri rapat pejabat mengurusi keamanan negara dan urusan luar negeri di lokasi yang tak diungkapkan. [AFP/KNS-KCNA]

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menghadiri rapat pejabat mengurusi keamanan negara dan urusan luar negeri di lokasi yang tak diungkapkan. [AFP/KNS-KCNA]

Retorik dan ancaman terbaru Korea Utara yang ditujukan kepada Korea Selatan dan Amerika Serikat memberi kesan bahwa sang pemimpin muda dan tak berpengalaman, Kim Jong-un, tidak sungguh-sungguh mencoba menurunkan ketegangan dengan para tetangganya, terlepas dari retorik perdamaian dalam pidato Tahun Barunya kepada rakyat.

Sebaliknya, Kim mengasosiasikan dirinya erat dengan kepemimpinan tradisional negara itu yang bersifat mengasingkan diri dan militer garis keras. Dia tampaknya bersiap-siap untuk melakukan uji nuklir bawah tanah lagi.

“Kami tidak menutupi bahwa berbagai satelit dan roket jarak jauh yang akan diluncurkan oleh DPRK [Republik Demokratis Rakyat Korea] satu demi satu dan uji nuklir tingkat yang lebih tinggi akan membidik AS, musuh bebuyutan rakyat Korea,” kata Dewan Pertahanan Korea Utara, badan militer teratas Pyongyang, dalam pernyataan yang dikeluarkan pada tanggal 24 Januari.

Peledakan nuklir di Fasilitas Uji Nuklir Punggye-ri mungkin akan segera terjadi, tulis analis Jack Liu pada tanggal 25 Januari di situs web 38 North yang diterbitkan oleh Fakultas Studi Internasional Lanjutan dari Institut AS-Korea.

“Analisis gambar satelit yang baru dari 23 Januari 2013 dan gambar sebelumnya dari bulan lalu menunjukkan bahwa fasilitas itu sepertinya terus berada di status siap yang akan memungkinkan Korea Utara maju dengan pengujian itu dalam beberapa minggu atau kurang setelah pemimpin di Pyongyang memberi perintah,” tulis Liu.

“Operasi penyingkiran salju dan selanjutnya serta jejak di atas salju menunjukkan kegiatan yang berlangsung di gedung-gedung dan jalan-jalan dekat dengan, kemungkinannya, terowongan uji. Foto dari 4 Januari mengidentifikasikan kelompok personel, mungkin pasukan atau petugas keamanan, dalam formasi di lapangan wilayah administratif dekat dengan mulut terowongan uji, mungkin untuk menyambut pejabat yang datang atau suatu tujuan rutin lainnya,” lanjut si analis.

“Gambar dari 24 Desember mengidentifikasikan tumpukan material baru yang terletak dekat dengan lubang perlindungan komando di wilayah yang sama. Tujuan adanya material ini masih belum jelas dan ada berbagai kemungkinan penjelasan,” tulis Liu. “Salah satunya adalah ditujukan untuk menyumbat atau menutup terowongan dalam persiapan untuk peledakan. Dalam foto dari 23 Januari, besarnya tumpukan tampak berkurang. Jika material itu ditujukan untuk penyumbatan, dapat mengindikasikan operasi semacamnya mungkin berjalan dalam persiapan untuk peledakan.”

Kim Jong-un sudah jelas mengatakan bahwa dia bertekad untuk terus maju dengan program pengembangan misil balistik antarbenua dan nuklir Korea Utara, meskipun negaranya akan terus membayar dalam bentuk pengasingan internasional dan sanksi ekonomi.

Masih ada ketidakpastian

Memang, pemimpin muda nasional [masih ada ketidakpastian tentang tahun kelahirannya] yang mengambil alih kekuasaan pada bulan Desember 2011 mungkin terbukti lebih tidak stabil dan tak dapat diprediksi daripada ayahnya, Kim Jong-il.

Kim Jong-il selama puluhan tahun memiliki rekor tangguh menyetujui serangan teroris, pembunuhan, dan bahkan penembakan artileri atas pedesaan Korea Selatan dan sasaran lainnya. Dia diduga memerintahkan serangan bom di Rangoon [kini Yangon], ibukota Myanmar, pada tahun 1983 yang menewaskan empat menteri kabinet Korea Selatan dan 13 pejabat Korsel lainnya, dan pengeboman tahun 1987 yang menghancurkan Penerbangan 858 Korean Air, menewaskan semua 115 penumpang. Setidaknya 2 juta orang tewas dalam bencana kelaparan besar di bawah rezimnya karena salah urus ekonomi.

Namun, Kim Jong-il, seperti ayahnya, Kim Il-sung, bapak dari dinasti kuasa komunis turunan Korea Utara, berhati-hati menyesuaikan provokasinya ke Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Kim Jong-il juga merupakan pemimpin dan penyelenggara yang berpengalaman ketika menggantikan ayahnya pada tahun 1997. Dia sudah menjadi penguasa de facto Korea Utara selama 15 hingga 20 tahun sebelumnya. Kebiasaan dan pola tingkah lakunya dapat diprediksi oleh para tetangganya.

Faktor-faktor penstabil itu belum berlaku kepada Kim Jong-un. Ayahnya meninggal karena serangan jantung dan Kim Jong-un meneruskan kepemimpinan lebih cepat daripada yang direncanakan ayahnya. Ketika dia mengambil alih, dia belum pernah memegang posisi kekuasaan dengan tanggung jawab besar atau penyelenggara negara sebelum menjadi pemimpin negara. Kim Jong-il dulunya semacam penahan atau faktor penstabil untuk para pemimpin militernya sendiri, Kim Jong-un sejauh ini tidak memiliki kapasitas atau pengalaman untuk memainkan peran itu.

Juga, hasrat Kim Jong-un untuk memperbaiki kondisi ekonomi di negaranya, meskipun tulus, tampaknya telah membuatnya tidak mencampurtangani militernya dalam struktur kekuasaannya sendiri.

Dewan Pertahanan buat pernyataan garis keras

Pernyataan Dewan Pertahanan Korea Utara yang berapi-api pada tanggal 24 Januari yang ditujukan pada Amerika Serikat jauh lebih besar dan lebih kuat daripada retorik resmi sebelumnya dalam lebih dari tiga dasawarsa pemerintahan ayahnya yang efektif. Kim bereaksi panas atas pengumuman Dewan Keamanan PBB yang menyetujui sanksi ekonomi baru terhadap Korea Selatan sebagai balasan atas keberhasilan peluncuran satelit ke orbit rendah bumi pada tanggal 12 Desember 2012.

Kritik terhadap peristiwa itu mungkin telah membuat Kim Jong-un lebih marah karena peluncuran itu adalah satu-satunya pencapaian nyata pemerintahannya sejauh ini. Peluncuran satelit itu adalah hasil dari puluhan tahun sumber daya langka yang dibaktikan pada proyek itu oleh ayah Kim. Namun, baik Kim Il-sung atau Kim Jong-il tidak pernah memimpin peluncuran satelit yang berhasil.

Ancaman Kim Jong-un terhadap Korea Selatan dan Amerika Serikat juga mengisyaratkan sifatnya yang tidak stabil dan tak dapat diprediksi karena muncul kurang dari empat minggu setelah pidatonya yang mengejutkan pada Hari Tahun Baru tentang rekonsiliasi nasional dengan Korea Selatan.

Bisa jadi Kim Jong-un berpikir komentar Tahun Barunya akan dengan sendirinya membawakan tawaran peningkatan kerja sama dan bantuan ekonomi dari Korea Selatan, yang pemimpin terpilih baru, Park Geun-hye, akan mengambil alih kekuasaan pada tanggal 25 Februari. Jika itu benar, sambutan marahnya yang datang belakangan mungkin mencerminkan kemarahan bahwa dia tidak mendapatkan tanggapan sebagaimana yang dia antisipasi dari pidato Hari Tahun Barunya.

Menggarisbawahi kemungkinan itu adalah fakta bahwa Kim tidak punya pengalaman diplomatik atau pemaparan yang nyata untuk berurusan dengan para pemerintah di dunia, terutama pemerintah demokratis di Seoul dan Washington. Karena itu dia mungkin rentan untuk membuat salah perhitungan terhadap peringatan dan tanggapan diplomatik dalam cara yang tidak akan dilakukan ayah dan bahkan kakeknya.

Klaim dari Dewan Pertahanan Korea Utara pada tanggal 24 Januari bahwa mereka akan membidik Amerika Serikat dengan program senjatanya dipandang sebagai ancaman yang eksplisit.

Korea Selatan, Jepang akan miliki pemimpin baru

Masih belum ketahuan bagaimana Kim dan para penasihatnya akan menanggapi dan menganalisis perubahan kepemimpinan tetangganya di Korea Selatan dan Jepang baru-baru ini.

Pimpinan Pyongyang tidak mungkin menyambut baik kemenangan bulan Januari akan Park di Korea Selatan dan Perdana Menteri baru Shinzo Abe di Jepang. Kedua pemimpin itu mendukung dijaganya dan bahkan peningkatan hubungan keamanan yang telah lama berlangsung dengan Amerika Serikat. Tak satu pun dari mereka cenderung untuk menyetujui bantuan ekonomi ke Korut, setidaknya tanpa ada syarat yang ketat.

Moon Jae-in, kandidat yang kalah di pemilihan presiden Korea Selatan tadinya diharapkan akan menghidupkan kembali kebijakan Cahaya Matahari atas percobaan kerja sama ekonomi dengan dan bantuan pada Korea Utara yang diikuti oleh mantan Presiden Korea Selatan Kim Dae-jung dan Roh Moo-hyun.

Bahasa keras Kim mungkin juga membuktikan gayanya yang mempersiapkan Korea Selatan dan Amerika Serikat untuk menerima uji nuklir baru yang menentang bangsa-bangsa itu dan Dewan Keamanan PBB.

Sehari setelah peluncuran satelit bulan Desember, surat kabar Chosun Ilbo di Korea Selatan melaporkan bahwa analis intelijen Korsel menyimpulkan berdasarkan peluncuran itu bahwa Pyongyang kini memiliki “teknologi untuk membangun misil balistik antarbenua dengan jarak tempuh lebih dari 10.000 kilometer [6.000 mil].

“Beberapa ahli bahkan percaya bahwa jarak tempuhnya kini sudah diperpanjang menjadi lebih dari 13.000 kilometer [7.800 mil]. ICBM Korea Utara dengan jarak tempuh 10.000-kilometer bisa menghantam pantai barat laut di benua Amerika, sementara jarak tempuh 13.000 kilometer berarti sebagian besar wilayah AS kini menjadi potensi target,” lanjut surat kabar itu.

Analis intelijen Korea Selatan dan AS khawatir bahwa Korea Utara mungkin telah membuat kemajuan yang signifikan dalam menghaluskan rancangan dan sistem peledakan nuklir yang kasar. Namun mereka juga percaya bahwa Korut masih harus berjalan panjang untuk menggapai tujuan menciptakan rancangan yang praktis untuk mengantarkan perangkat nuklir sebagai hulu ledak sebagai di salah satu ICBM negara tersebut.

Namun, Pemerintah Korea Selatan “percaya bahwa Korea Utara tidak memiliki teknologi untuk membangun misil yang mampu masuk kembali ke atmosfer bumi dari antariksa,” dilaporkan oleh Chosun Ilbo.

Namun, kata analis Korea Selatan Lee Soo-seok di Institut Strategi Keamanan Nasional kepada Chosun Ilbo, Pyongyang bisa membangun teknologi yang diperlukan untuk memutakhirkan teknik hulu ledaknya, atau membelinya dari negara-negara semacam Iran lebih cepat daripada yang diperkirakan.

 

Beri Peringkat Artikel ini

Peringkat Saat Ini: 3.7 / 5 (262 suara)
 
 
Kirim Komentar

Kebijakan Komentar APD Forum

* menunjukkan bidang yang wajib diisi




1500 karakter tersisa (1500 jumlah karakter maksimum)

Button

Komentar Pembaca

 

herman goring tentang 16/04/2013 di 11:26AM

KORUT terlalu tergesa gesa