APDForum.com adalah versi online dari Asia-Pacific Defense Forum, yaitu sebuah jurnal militer profesional yang diterbitkan setiap kuartal oleh Komandan dari Komando Pasifik Amerika Serikat. APDForum.com menampilkan berita dan analisis mengenai Cina, India, Filipina, Vietnam, Jepang, kedua negara Korea, dan negara-negara Pasifik lainnya oleh para koresponden profesional. APDForum.com dan The Asia-Pacific Defense Forum menyediakan sebuah forum internasional bagi personel militer di wilayah-wilayah Asia dan Pasifik.

Presiden Korsel Park Geun-hye tetap mantap di jalur pemerintahannya

2013-03-29
Analisis oleh Martin Sieff
Presiden Park: Presiden Korsel Park Geun-hye memberi penghormatan saat upacara perayaan Hari Gerakan Kemerdekaan 1 Maret. [AFP]

Presiden Park: Presiden Korsel Park Geun-hye memberi penghormatan saat upacara perayaan Hari Gerakan Kemerdekaan 1 Maret. [AFP]

Mungkinkah seorang pemimpin baru dan dinamis yang muncul dari kelamnya krisis serta bayangan peperangan, mampu berkiprah di semenanjung Korea?

Presiden baru Korea Selatan Park Geun-hye yang menghadapi ancaman serangan, mencoba melakukan hal tersebut, meski seterunya di Korea Utara justru meningkatkan ketegangan.

Pada 22 Maret, Park menyetujui pengiriman pertama bantuan kemanusiaan ke Korea Utara di tengah meningkatnya ketegangan dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un yang tidak stabil, yang telah meningkatkan ancaman nuklir terhadap negara tetangganya.

Park, adalah presiden wanita pertama yang memenangkan pemilihan presiden di Korsel dan menjadi pemimpin bangsa itu. Dia juga yang pertama dari anak-anak presiden sebelumnya yang memenangkan posisi itu tanpa bantuan ayahnya. Ayahnya, Presiden Park Chung-hee, memerintah negara itu dari tahun 1961 hingga 1979.

Park telah dikritik karena goyah dan banyaknya tantangan di awal pemerintahannya setelah mulai berkuasa pada 25 Februari. Namun pada kenyataannya dia sudah bertindak cepat dan konsisten untuk mengatasi dengan tegas berbagai krisis tak terduga yang dihadapi negaranya..

Pertama, dia tidak menunjukkan kekuatiran dengan suksesnya percobaan nuklir Korea Utara pada 12 Feb. atau oleh luapan keangkuhan dan ancaman sesudahnya. Dia tetap meneruskan rangkaian latihan militer tahunan dengan Amerika Serikat.

Kedua, setelah menyetujui pengunduran diri menteri pertahanan yang merupakan pilihan pertamanya, Kim Byung-kwan, akibat tuduhan melanggar etika pada 22 Maret, dia lalu menunjuk Kim Kwan-jin, pejabat lama saat pemerintahan mantan Presiden Lee Myung-bak, untuk kembali menjabat.

“Presiden Park membuat keputusan itu [penunjukan menteri pertahanan] agar tidak lagi tertunda oleh perseteruan politik dan dengar pendapat parlemen, karena mendesaknya situasi keamanan nasional”, kata juru bicara kepresidenan Kim Haing.

Hubungan yang pertama kali dengan kepemimpinan lama

Ini adalah pertama kali dalam sejarah Korea Selatan ada presiden baru yang meminta menteri pertahanan sebelumnya untuk menjabat kembali. Namun Kim Kwang-jin adalah tokoh yang dihormati dan veteran berpengalaman, selain fakta bahwa Presiden Lee yang dibantu Kim adalah juga anggota dari partai konservatif Park yang berkuasa..

Di samping itu, berlanjutnya jabatan Kim Kwan-jin sekaligus menunjukkan kepada rakyat Korea Selatan adanya stabilitas dan kemantapan dalam pertahanan negara di saat krisis, serta guna menjaga mulusnya persekutuan negara itu dengan Amerika Serikat. Keberlanjutan jabatan itu berarti bahwa tidak ada pemimpin baru yang tidak berpengalaman atau tak terkendali, yang dapat meningkatkan ketegangan dengan Pyongyang.

Kim Byung-kwan, seorang pensiunan jenderal, mengundurkan diri dari pencalonan jabatan menteri pertahanan akibat munculnya berita bahwa dia tidak mengungkapkan telah melakukan lobi untuk kontraktor pertahanan. Hari sebelumnya, 21 Maret, Wakil Menteri Kehakiman Park, Kim Hak-ui juga mundur akibat skandal yang melibatkan masalah seks demi pengaruh kekuasaan, meski dia membantah keras tuduhan itu.

Korea Utara mendapat tawaran bantuan kemanusiaan

Park meluncurkan langkah pertama dalam upaya mengurangi ketegangan dengan Korea Utara, sesuai dengan janjinya saat kampanye pemilihan.

Dia telah menyetujui Yayasan Eugene Bell, lembaga bantuan internasional pemberi bantuan medis kemanusiaan ke desa-desa di Korea Utara, untuk mengirim obat-obatan bagi penyakit TBC senilai US$ 560.000 ke Korea Utara.

Juru bicara Kementerian Penyatuan Korea Selatan Kim Hyung-suk menyatakan agar tindakan ini jangan ditafsirkan sebagai konsesi utama untuk berdamai dengan Korea Utara.

“Persetujuan itu semata-mata demi tujuan kemanusiaan dan jangan dianggap mengandung pesan untuk memaafkan provokasi Korea Utara belakangan ini”, katanya.

Meski demikian, langkah Park ini memberi makna penting.

Tuberkulosis adalah masalah besar kesehatan di antara 24,5 juta penduduk miskin Korea Utara,, khususnya di antara para lansia dan anak-anak. Tidak ada data yang resmi atau akurat, namun jumlah orang yang menderita TBC di Korea Utara ditaksir berjumlah ratusan ribu.

Korea Selatan menghentikan pengiriman pangan dan pupuk ke Korea Utara saat Presiden Lee mulai memerintah lima tahun yang lalu. Namun Lee masih mengizinkan bantuan kemanusiaan oleh berbagai kelompok sipil.

Keputusan Park menunjukkan, tidak ada perubahan resmi dalam kebijakan Korea Selatan. Namun, hal itu merupakan itikad baik setelah tiga bulan meningkatnya ketegangan paska suksesnya peluncuran satelit ke orbit oleh Korea Utara menggunakan rudal balistik multi-tingkat pada 12 Desember, yang diikuti oleh uji nuklir terkuat bawah tanah negara itu pada 12 Februari.

Pengiriman bantuan kemanusiaan dari Korea Selatan ke Korea Utara merupakan yang pertama sejak kedua peristiwa itu. Pengiriman terakhir dilakukan pada November 2012.

Korea Utara menderita kekurangan pangan kronis, dan situasinya diperburuk oleh banjir, kekeringan dan salah urus. Diperkirakan ada 2 juta penduduk yang mati kelaparan saat paceklik pada pertengahan hingga akhir 1990, dan ratusan ribu lebih orang mengungsi ke provinsi Manchuria, China.

Diplomasi yang seimbang, keamanan yang konsisten

Sejak minggu-minggu pertama pemerintahannya, Park telah menegaskan kebijakan keamanan dan diplomasi yang seimbang dan konsisten seperti yang dia sampaikan saat berkampanye.

Seperti kata analis Lee Dong-jun kepada Global Times yang berbasis di Beijing dan didukung pemerintah China pada 26 Desember 2012, Park tetap mempertahankan pasar bebas dan nilai-nilai demokrasi, namun juga ingin meredam suasana konfrontasi yang dia warisi dari pendahulunya.

“Beberapa indikasi menunjukkan bahwa Park akan menghadapi tantangan besar dari pemikiran konservatif lama di Korea Selatan. Dari perspektif kebijakannya terhadap Korea Utara, Presiden terpilih Park tampak lebih liberal yang realistis, bukan penganut garis keras yang kaku”, tulis Lee Dong-jun.

“Saat kampanye kepresidenan, Park mencoba meredam posisi konservatifnya soal Korea Utara. Dia berjanji untuk kembali berbicara dengan Pyongyang, bergeser dari posisi menyerang Korea Utara yang diambil oleh Presiden Lee Myung-bak, yang dianggap gagal oleh banyak warga Korea Selatan…”, tulisnya.

Park berjanji untuk mencoba menciptakan hubungan baru berdasarkan kepercayaan dengan Korea Utara dan meningkatkan tranparansi dalam hubungan antar-perbatasan. Pembaruan bantuan kemanusiaan harus dilihat dalam kaitan tersebut.

Lee Dong-jun menekankan bahwa Park juga telah memberi isyarat akan kesiapan dia bagi kebijakan yang mencerahkan dalam kerjasama melalui bantuan ekonomi, serupa dengan yang dijalankan oleh presiden liberal sebelumnya Kim Dae-jung maupun Roh Moo-hyun pada dekadde sebelum berkuasanya Presiden Lee.

Dalam hubungan dengan Korea Utara, Presiden Park tampaknya cenderung mengkombinasikan ketahanan militer dengan insentif ekonomi, tepat seperti yang dia lakukan saat ini, sebagaimana prediksi Herald Korea dalam tajuknya tertanggal 27 Desember.

“Yang mungkin dibutuhkan dalam menangani soal Korea Utara adalah perpaduan canggih dari wortel dan cambuk”, kata koran itu. “Korea Utara harus dibuat mengalami beberapa konsekuensi atas berbagai tindakan provokatifnya, seperti peluncuran roket baru-baru ini. Bersamaan dengan itu, saluran dialog harus terus dibuka sebagai sarana untuk mengubah perilaku mereka, dengan menawarkan jaminan keamanan dan berbagai manfaat lain yang akan mereka peroleh jika mengubah haluan.”

Meski punya kecenderungan moderat, Park tetap harus memperhitungkan basis kekuasaannya yang konservatif saat menyusun kebijakan ekonomi dan keamanannya dengan Korea Utara, sebagaimana diingatkan oleh South China Morning Post pada 20 Desember.

“Meski kini di pusat kekuasaan, Park dibantu oleh pendukung konservatif yang umumnya adalah konstituen tua yang masih teringat pada nikmatnya kemajuan ekonomi dan panduan keamanan yang diberikan oleh ayahnya yang diktator, almarhum presiden Park Chung-hee”, kata koran tersebut.

Walaupun begitu, ketegaran dan kemantapan pribadi Park di bawah tekanan yang terus menerus adalah tak tergoyahkan. Kesulitan tidaklah asing baginya. Ayahnya dibunuh pada tahun 1979 saat masih berkuasa – lima tahun setelah ibunya terbunuh pada tahun 1974 oleh orang bersenjata yang pro Korut yang menyasar ayahnya.

Presiden Park terpacu oleh naluri melayani masyarakat. Segala kebijakan dan prinsipnya menunjukkan keteguhannya untuk mempertahankan stabilitas politik demokratis Korsel serta keberhasilan perekonomian pasar bebas dalam kaitan persekutuan negara itu dengan Amerika Serikat.

AS menandatangai perjanjian pertahanan timbal-balik guna membantu Korsel menghadapi provokasi dari Korut.

Persetujuan Washington dengan Korsel yang ditandatangani pada 22 Maret setelah perundingan 2,5 tahun, mewajibkan militer AS membela sekutunya jika pecah perang di Semenanjung Korea. Kesepakatan ini menetapkan peran yang harus dilakukan Amerika Serikat dalam menangani provokasi dari Korut. Kedua sekutu mengatakan, mereka sedang menggarap rencana cadangan sejak pemboman Yeonpyeong pada 23 November 2010. Pada hari itu Korut menembakkan sekitar 170 peluru dan roket artileri ke sasaran-sasaran sipil dan militer di pulau perbatasan di Korsel, menewaskan empat warga Korsel dan melukai 119 lainnya.

Dapat dipastikan, Park akan bertekad untuk menunjukkan keterbukaan dan jaminan selama dia memimpin negaranya melalui masa-masa ketidakpastian ini.

 

Beri Peringkat Artikel ini

Peringkat Saat Ini: 3.0 / 5 (164 suara)
 

Belum ada komentar untuk artikel ini. Anda ingin menjadi yang pertama?

 
Kirim Komentar

Kebijakan Komentar APD Forum

* menunjukkan bidang yang wajib diisi




1500 karakter tersisa (1500 jumlah karakter maksimum)

Button