APDForum.com adalah versi online dari Asia-Pacific Defense Forum, yaitu sebuah jurnal militer profesional yang diterbitkan setiap kuartal oleh Komandan dari Komando Pasifik Amerika Serikat. APDForum.com menampilkan berita dan analisis mengenai Cina, India, Filipina, Vietnam, Jepang, kedua negara Korea, dan negara-negara Pasifik lainnya oleh para koresponden profesional. APDForum.com dan The Asia-Pacific Defense Forum menyediakan sebuah forum internasional bagi personel militer di wilayah-wilayah Asia dan Pasifik.

Singapura: pemimpin keamanan strategis

2013-06-21
Oleh Martin Sieff
Para perdana menteri: Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, kiri, berjabatan tangan dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di Tokyo, 22 Mei lalu sebelum melangsungkan pembicaraan tentang kesepakatan mereka untuk meluaskan hubungan ekonomi dan keamanan. [AFP]

Para perdana menteri: Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, kiri, berjabatan tangan dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di Tokyo, 22 Mei lalu sebelum melangsungkan pembicaraan tentang kesepakatan mereka untuk meluaskan hubungan ekonomi dan keamanan. [AFP]

Nama-nama penting dalam pertemuan para menteri pertahanan Asia-Pasifik, pada Dialog Shangri-La yang terakhir, dan perhatian media global yang ditimbulkannya, menegaskan kenyataan yang terus berkembang: Negara tuan rumah, Singapura, menjadi pemain utama pada masalah keamanan Asia.

Pada 22 Mei lalu, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe telah bersepakat untuk meluaskan hubungan ekonomi dan keamanan mereka dalam pertemuan di Tokyo.

Seminggu kemudian, Wakil Kepala Staf Tentara Pembebasan Rakyat China, Letjen Qi Jianguo, Menteri Pertahanan Jepang Itsunori Onodera, Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung dan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Chuck Hagel memimpin delegasi nasional masing-masing ke Dialog Shangri-La tahun ini, dan semuanya memanfaatkan acara ini sebagai ajang pertemuan profil tinggi untuk mengemukakan pernyataan kebijakan penting, prakarsa baru dan bahkan perubahan arah nasional.

Hanya dalam 11 tahun sejak dimulai pada tahun 2002, Dialog Shangri-La yang diselenggarakan oleh International Institute for Strategic Studies (IISS) yang berkedudukan di Washington, telah meneguhkan diri sebagai salah satu konferensi keamanan tahunan yang terkemuka di dunia. Di seluruh Asia, dialog ini sudah menduduki tempat tersendiri yang setara dengan Konferensi Pertahanan Munich terhormat yang diadakan setiap tahun, yang sebelumnya disebut Wehrkunde, diadakan pada akhir Januari setiap tahun di kota tua di selatan Jerman.

Dialog Shangri-La adalah konferensi para petinggi negara paling terhormat dalam jenisnya setiap tahun di seluruh Asia. Namun demikian, Singapura sudah bekerja keras untuk memantapkan dirinya sebagai pusat global dan pan-Asia untuk mengadakan dialog perekonomian dan keamanan yang beragam luas.

Pada pertengahan Mei, negara ini menjadi tuan rumah untuk Konferensi Keamanan Maritim Internasional (IMSC) ketiga. Menteri Negara Senior Singapura untuk Pertahanan, Chan Chun mengungkapkan konsep strategis yang melandasi kebijakan luar negeri negaranya. Dia mengatakan pada konferensi tanggal 15 Mei bahwa keberhasilan perekonomian Asia yang mengagumkan, hanya dapat dilanjutkan jika kawasan ini tetap damai dan stabil, sebagai prasyarat yang menentukan bagi perdagangan dan investasi, demikian yang dilaporkan AsiaOne News yang berkedudukan di Singapura.

“Dengan lebih dari separuh pasokan minyak dunia yang melintasi Selat Malaka dan Singapura, gangguan apa pun pada selat ini akan mempengaruhi ekonomi global, dengan dampak langsung terhadap kesejahteraan keamanan dan ekonomi kawasan kita, dan saya yakin ini pun akan berdampak terhadap negara lainnya di dunia,” kata Chan.

“Oleh sebab itu, kita semua berkepentingan untuk memastikan bahwa jalur utama komunikasi laut tetap terbuka dan aman," demikian kesimpulannya.

Singapura memiliki lokasi strategis

Pidato Chan mencerminkan pemahaman yang jelas ketiga pemimpin Singapura dalam sejarah kemerdekaannya, bahwa dengan segala kekayaan, kecanggihan dan keuangan berkelas dunia, serta keahlian teknologis, negara mereka tidak bisa menanggung risiko secara sendirian di dunia modern.

Singapura adalah kota negara yang kecil, multi-etnis dengan penduduk yang hanya berjumlah 5,3 juta, terletak pada salah satu gerbang maritim paling penting di dunia, atau pos penjagaan: Selat Malaka. Seperti ditegaskan Menteri Pertahanan, Chan, Singapura berada pada bentangan rute perdagangan maritim yang sangat penting antara ladang minyak Timur Tengah dan negara ekonomi industri besar, seperti China, Jepang dan Korea Selatan di Asia Timur Laut.

Sebagian besar analis dan pembuat kebijakan di kawasan dan di seluruh dunia memprediksi kekacauan yang singkat bagi Singapura setelah negara ini merebut kemerdekaan dari Kerajaan Inggris yang meninggalkan negeri ini pada tahun 1963. Namun demikian, di bawah kepemimpinan perdana menteri pendiri yang mengesankan, Lee Kuan Yew, negara kecil ini membingungkan para pengamat, karena negara ini menjadi benteng pertahanan demokrasi, stabilitas, investasi, perdagangan dan kemakmuran teknologi tinggi di salah satu tempat utama di Asia.

Keberhasilan Singapura telah mengakar dalam kebijakan luar negerinya yang memupuk hubungan erat dan membangun dengan negara-negara tetangga terdekatnya, Indonesia dan Malaysia, serta dengan pembentukan dan keberhasilan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang beranggotakan 10 negara. Singapura telah menjadi negara makmur dan perdagangannya tumbuh pesat, membentang dari perbatasan Australia ke China dan India, dan dari Filipina ke Myanmar, dengan total penduduk sebanyak 600 juta jiwa.

Pada tahun 1971, Singapura, Kerajaan Inggris, Australia, Selandia Baru dan Malaysia mendirikan Five Power Defense Arrangements [FPDA]. Ini dirancang untuk menggantikan peran pertahanan Inggris yang terdahulu di Singapura. FPDA mewajibkan negara anggota untuk berkonsultasi jika ada ancaman terhadap Singapura atau Malaysia.

Perjanjian itu awalnya dirancang untuk melindungi ruang angkasa Singapura dan Malaysia. Namun begitu, cakupan FPDA telah meluas dan sekarang meliputi pelatihan yang melibatkan Angkatan Laut dan Angkatan Darat serta Angkatan Udara. Kelima negara anggota menganggap FPDA sebagai elemen penting keamanan kawasan di Asia Tenggara.

Hubungan dengan China meningkat

Singapura menikmati hubungan yang sangat baik dengan China. Perdana Menteri saat ini, Lee adalah teman dekat Presiden Chinese, Xi Jinping dan dipandang sangat terhormat oleh generasi para pemimpin China saat ini.

Hubungan dengan China telah meningkat di bawah pemerintahan Lee. Bidang perdagangan, pariwisata dan investasi mengalami kemajuan pesat, yang bukan sekadar sesuai dengan kepentingan kedua negara, tetapi akan bermanfaat bagi perkembangan kawasan pada umumnya. Dewan Gabungan China-Singapura untuk Kerja Sama Bilateral bertanggung jawab untuk memajukan kerja sama China-Singapura.

Dalam strategi besarnya, Singapura juga telah menjajaki dan mempertahankan hubungan keamanan yang dekat dengan Amerika Serikat. Sebagai bagian dari perimbangan kembali A.S. ke Asia, Angkatan Laut A.S. akan mengerahkan Kapal Tempur Pesisir di Singapura.

Perdana Menteri Lee mengambil langkah penting untuk meluaskan hubungan negaranya dengan A.S. setelah mengambil alih kekuasaan pada tahun 2004. Pendahulunya, Goh Chok Tong sudah merampungkan Perdagangan Bebas A.S.-Singapura. Pada tahun 2005, Lee melakukan kunjungan pertamanya sebagai perdana menteri ke Amerika Serikat dan menandatangani Perjanjian Kerangka Kerja Strategis dengan Presiden George W. Bush. Kedua negara setuju untuk bekerja sama dalam menanggulangi ancaman umum seperti terorisme dan penyebaran senjata pemusnahan massal.

Singapore Armed Forces [SAF], khususnya Angkatan Udara, meskipun kecil, namun dianggap sebagai yang terbaik di kawasan dalam keefektifan operasionalnya. AD, AL dan AU memiliki sekitar 71.600 personil aktif dan lebih dari 350.000 personil cadangan.

Para pemimpin Singapura terus mengakui bahwa kelangsungan keamanan dan kemakmuran terutama bersandar pada pengembangan struktur kuat yang memupuk rasa hormat dan kerja sama pertahanan, tidak saja di antara negara anggota ASEAN, tetapi di seluruh kawasan Asia dan Pasifik.

Apakah aset terbaik Singapura – dan tantangannya yang terbesar? Berbagilah pendapat Anda di bagian komentar di bawah ini.

 

Beri Peringkat Artikel ini

Peringkat Saat Ini: 3.0 / 5 (148 suara)
 

Belum ada komentar untuk artikel ini. Anda ingin menjadi yang pertama?

 
Kirim Komentar

Kebijakan Komentar APD Forum

* menunjukkan bidang yang wajib diisi




1500 karakter tersisa (1500 jumlah karakter maksimum)

Button