APDForum.com adalah versi online dari Asia-Pacific Defense Forum, yaitu sebuah jurnal militer profesional yang diterbitkan setiap kuartal oleh Komandan dari Komando Pasifik Amerika Serikat. APDForum.com menampilkan berita dan analisis mengenai Cina, India, Filipina, Vietnam, Jepang, kedua negara Korea, dan negara-negara Pasifik lainnya oleh para koresponden profesional. APDForum.com dan The Asia-Pacific Defense Forum menyediakan sebuah forum internasional bagi personel militer di wilayah-wilayah Asia dan Pasifik.

Dukungan keamanan bagi Asia tetap prioritas tinggi

2013-06-23
Analisis oleh Martin Sieff
Para pemimpin pertahanan: Menteri Pertahanan Jepang, Itsunori Onodera, Menteri Pertahanan A.S. Chuck Hagel, tengah, dan Menteri Pertahanan Korea Selatan, Kim Kwan-jin saling berpegangan tangan dalam persatuan bulan ini di Singapura. [AFP]

Para pemimpin pertahanan: Menteri Pertahanan Jepang, Itsunori Onodera, Menteri Pertahanan A.S. Chuck Hagel, tengah, dan Menteri Pertahanan Korea Selatan, Kim Kwan-jin saling berpegangan tangan dalam persatuan bulan ini di Singapura. [AFP]

Menteri Pertahanan Chuck Hagel terus menekankan dukungan Amerika Serikat bagi Asia-Pasifik dan memberikan jaminan kepada para pemimpin yang menghadiri Dialog Shangri-La 2013 tentang manfaat perimbangan kembali di kawasan tersebut.

Para jenderal senior Tentara Pembebasan Rakyat [PLA] yang memimpin delegasi China di konferensi itu bersikap amat sopan dan berhati-hati dalam memberikan tanggapan mereka terhadap pidato menteri pertahanan, yang mengisyaratkan bahwa Presiden Xi Jinping mengharapkan pertemuan yang positif dan konservatif dengan Presiden A.S. Barack Obama, Charles W. Freeman Jr., mantan duta besar A.S. di Beijing, demikian yang disampaikan kepada Forum Pertahanan Asia-Pasifik.

“Poin utama untuk dicatat yaitu, Menhan Hagel berbicara sebelum pertemuan tingkat tinggi di California,” demikian kata Freeman kepada APDForum dalam suatu wawancara. “Karena itu, tidak ada keinginan dari rakyat PLA di sana untuk merebut perhatian dari atasan mereka.”

Menhan Hagel “menyampaikan kebijakan A.S. yang sudah ditetapkan dengan cara yang mulus dan diplomatis," demikian kata duta besar.

Analis Dean Cheng dari Pusat Kajian Asia di Heritage Foundation, Washington, D.C., juga menekankan kelanjutan kebijakan A.S. terhadap Asia yang ditegaskan dalam pidato menteri pertahanan.

“Yang harus dipahami tentang kebijakan umum A.S. terhadap Asia yaitu, Amerika Serikat tidak pernah meninggalkan Asia,” kata Cheng kepada APDForum dalam suatu wawancara. “Kami tidak pernah memulangkan Armada Ketujuh.”

Penguatan kebijakan perimbangan kembali yang diumumkan oleh Hagel merupakan perkembangan wajar dari perkembangan lainnya di seluruh dunia, ujar Cheng. Seiring dengan meredanya perang di Irak dan Afghanistan, "adalah wajar bahwa peningkatan proporsi sumber daya yang terbebaskan akan mengalir ke Asia," katanya.

Dialog Shangri-La pertama bagi Hagel sebagai kepala Pentagon, kemungkinan akan disambut hangat oleh banyak pemerintah dan pejabat Asia yang mencemaskan soal China yang semakin agresif, dan komitmen A.S. terhadap kawasan di tengah perdebatan tentang anggaran yang masih berlangsung di Washington,” tulis Curtis S. Chin, executive-in-residence, Asian Institute of Technology di Thailand, di Asia Times Online tanggal 13 Juni.

Negara-negara bersatu dalam menanggapi ancaman Korea Utara

Selama enam bulan terakhir, Amerika Serikat dan sekutunya Korea Selatan dan Jepang telah berhasil menahan gelombang ancaman liar penghancuran nuklir dari Korea Utara yang belum pernah ada sebelumnya, setelah peluncuran misil balistik antar benua yang terbaru pada bulan Desember dan uji-coba nuklir bawah tanah ketiga pada bulan Februari. Hal ini menyebabkan sanksi ekonomi PBB baru yang diberlakukan bagi Pyongyang.

Bukannya mengintimidasi Seoul maupun Tokyo, pemerintahan baru di kedua negara, masing-masing, Presiden Park Geun-hye dan Perdana Menteri Shinzo Abe menjadi semakin erat dengan Amerika Serikat, memperkuat kerja sama pertahanan yang saling menguntungkan, khususnya mengenai generasi baru sistem pertahanan misil balistik. Dalam jajak pendapat, dukungan populer terhadap ketiga pemerintahan tersebut meningkat.

“Kami telah membangun momentum yang kuat untuk melaksanakan perjanjian perdagangan dan investasi generasi baru melalui perundingan Kemitraan Trans-Pasifik," kata Hagel pada pertemuan tingkat tinggi tersebut. “Kami memupuk perdagangan dan investasi regional melalui pekerjaan kami di APEC [forum Kerja Sama Perekonomian Asia Pasifik] dan dukungan kami kepada ASEAN [Asosiasi Bangsa-Bangsa Asia Tenggara yang terdiri dari 10 negara].”

Hagel menyampaikan kepada hadirin bahwa Panduan Strategis 2012 Obama "masih memandu militer A.S. saat kami mengarahkan kembali kapabilitas dan kemampuannya untuk persiapan yang lebih baik dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan global di waktu mendatang.”

“Baru-baru ini saya mengarahkan Pilihan Strategis dan Kajian Pengelolaan di seluruh departemen … untuk memfokuskan energi dan pemikiran baru dalam menanggapi tantangan yang masih ada, dan membuat kekuatan pertahanan kita lebih mencerminkan realita keamanan abad ke-21 – termasuk kebangkitan Asia,” katanya.

Hagel meyakinkan para pemimpin Asia, “setelah pengkajian ini, Amerika Serikat akan terus melaksanakan perimbangan kembali dan memprioritaskan sikap, aktivitas dan investasi kami di Asia-Pasifik. Kami sudah mengambil sekian banyak tindakan nyata dalam mendukung komitmen itu.”

Semakin banyak kekuatan darat dan laut di kawasan

Di antara tindakan-tindakan ini, menteri pertahanan mencantumkan penguatan "kekuatan darat di Pasifik setelah Irak, dan saat kami mundur dari Afghanistan." Kekuatan Ekspedisi Bahari ke-1 dan ke-3, serta Divisi Infanteri ke-25 Angkatan Darat, semua kembali ke markas asal mereka di teater Pasifik. AD Amerika Serikat juga menyatakan Korps ke-1 ‘diselaraskan di kawasan’ untuk kawasan Asia-Pasifik.”

Pada tahun 2020, katanya, Angkatan Laut A.S. akan “memajukan 60 persen dari aset kelautan kami ke Pasifik.” Selain itu, “Angkatan Udara A.S. telah mengalokasikan 60 persen kekuatan basis luar negerinya ke Asia-Pasifik – termasuk pesawat taktis dan kekuatan pembom dari daratan Amerika Serikat. Angkatan Udara memfokuskan persentase serupa pada kapabilitas ruang dan cyber-nya di kawasan.”

Departemen Pertahanan juga memprioritaskan "pengerahan platform kami yang termutakhir ke Pasifik, termasuk F-22 Raptor dan pengerahan F-35 Joint Strike Fighter ke Jepang, serta kapal selam serangan cepat Virginia-class keempat dikerahkan ke Guam,” katanya.

Hagel juga mencantumkan serangkaian tindakan bilateral yang akan diambil oleh Amerika Serikat untuk meningkatkan kerja sama keamanan dengan para sekutunya selama ini dan negara-negara besar lainnya di kawasan.

“Dengan Jepang, kita telah sepakat untuk mengkaji Panduan Pertahanan yang melandasi kerja sama Aliansi, dan membuat kemajuan berarti dalam menyusun kembali bentuk kekuatan kita dan meningkatkan kapabilitas pertahanan misil Aliansi," katanya.

Dengan Korea Selatan, "kita berupaya melaksanakan Aliansi Strategis 2015 dan membahas visi bersama untuk Aliansi yang berorientasi lebih global hingga 2030," lanjutnya.

“Dengan Filipina kita membahas peningkatan kehadiran kekuatan A.S. secara bergilir, dan membantu angkatan bersenjata Filipina untuk memodernisasi serta membangun kapasitas maritim yang lebih hebat … Dengan Thailand, enam bulan lalu kita mengumumkan Pernyataan Visi Gabungan, dokumen bilateral pertama semacam itu dalam kurun waktu lebih dari 50 tahun," katanya.

“Amerika Serikat dan Indonesia bekerja bersama-sama untuk bantuan kemanusiaan dan kesiapan tanggap bencana, keamanan maritim, perdamaian internasional, dan memberantas ancaman transnasional,” tambahnya.

"Penting" membina hubungan lebih kuat dengan China

Menteri pertahanan juga meyakinkan para pemimpin dan pembuat kebijakan Asia yang hadir dalam pertemuan tersebut, bahwa membangun "hubungan positif dan konstruktif dengan China juga merupakan bagian penting dari perimbangan kembali Amerika di Asia.”

“Amerika Serikat menyambut baik dan mendukung kemakmuran serta keberhasilan China yang berkontribusi untuk menyelesaikan masalah regional dan global," katanya. "Untuk tujuan ini, Amerika Serikat telah secara konsisten mendukung peran bagi China dalam perekonomian regional dan global serta institusi keamanan, seperti G20. Kami mendorong para sekutu dan mitra kami untuk melakukan hal yang sama.”

“Hagel menegaskan kembali 'poros' A.S. bagi Asia-Pasifik, meskipun 'perimbangan kembali' sekarang ini merupakan istilah yang lebih disukai bagi kebijakan itu di antara para pejabat A.S.," Chin menulis di Asia Times Online. “Kunjungan kelautan U.S. ke Singapura dan pelabuhan lain di Pasifik semakin meningkat. Sementara itu, latihan militer gabungan dengan sekutu regional, terus melaju dengan cepat. Hagel juga mencermati kepentingan dialog dan keterlibatan antara A.S. dan China, demi menghindari 'salah perhitungan dan salah pengertian serta salah tafsir.’”

Abhijit Singh, sesama peneliti di Yayasan Maritim Nasional di New Delhi, menyimak bahwa pidato Hagel berfokus pada pengembangan teknologi militer baru yang dramatis oleh militer A.S.

Menteri pertahanan A.S "menegaskan kapabilitas pertahanan A.S. yang baru dan transformasional, termasuk penggunaan laser untuk mempertahankan kapal-kapal di laut, dan pesawat yang diterbangkan pilot jarak jauh di atas kapal induk," tulisnya di Asia Times Online pada 11 Juni.

Analis Ei Sun Oh dari S. Rajaratnam School of International Studies di Nanyang Technological University, Singapura, yang menulis di Global Times China, menyimpulkan bahwa khalayak tujuan utama Hagel tidak lain adalah China.”

Hagel menyerukan dialog lainnya

Mayjen Yao Yunzhu, direktur Pusat bagi Hubungan Pertahanan China-Amerika di Akademi Ilmu Militer dari Tentara Pembebasan Rakyat, menanyakan, bagaimana Hagel bisa merekonsiliasikan upayanya untuk memperbaiki hubungan China-Amerika dengan meningkatkan kapabilitas militer U.S. di kawasan.

“Justru itulah tujuan di balik hubungan antar militer yang lebih erat," jawab Hagel. “Kita tidak ingin ada salah hitung dan salah pengertian maupun salah tafsir. Dan satu-satunya cara yang untuk melakukan ini adalah, kita saling berbicara.”

Hagel juga memberi tahu kepada forum bahwa Amerika Serikat tetap bersikap "teguh terhadap upaya pemaksaan apa pun untuk mengubah status quo” di Laut China Selatan.

Wakil kepala staf Tentara Pembebasan Rakyat China, Letjen Qi Jianguo, selanjutnya menanggapi bahwa patroli laut China di daerah tersebut sepenuhnya resmi. Namun, Letjen Qi, seperti Hagel, meyakinkan khalayak yang hadir di Shangri-La bahwa negaranya, seperti Amerika Serikat, tetap bertekad menjunjung tinggi perdamaian, keamanan dan kerja sama konstruktif di kawasan.

Qi mengatakan, China bertekad menjunjung tinggi semangat terbuka terhadap dunia dan mendorong negara lain untuk bekerja sama dengan China dalam rangka berbagi sumber daya untuk manfaat bersama dan menciptakan masa depan, demikian laporan China Daily. Qi juga mengindikasikan bahwa satu-satunya cara untuk memastikan kemakmuran, stabilitas dan perkembangan wilayah Asia-Pasifik adalah bekerja sama dengan negara-negara lain, demikian yang diberitakan China Daily.

“Kami yakin bahwa perkembangan untuk keuntungan bersama mencakup berbagi kepentingan, mempertimbangkan kekhawatiran negara lain yang sesuai hukum, daripada hanya memaksimalkan kepentingan sendiri, katanya.

Freeman mengatakan kepada APDForum bahwa komentar Qi disampaikan "dalam konteks strategi besar Presiden Xi untuk merundingkan kerangka kerja umum yang baru untuk kerja sama antara Amerika Serikat dan China.”

 

Beri Peringkat Artikel ini

Peringkat Saat Ini: 3.0 / 5 (154 suara)
 

Belum ada komentar untuk artikel ini. Anda ingin menjadi yang pertama?

 
Kirim Komentar

Kebijakan Komentar APD Forum

* menunjukkan bidang yang wajib diisi




1500 karakter tersisa (1500 jumlah karakter maksimum)

Button