APDForum.com adalah versi online dari Asia-Pacific Defense Forum, yaitu sebuah jurnal militer profesional yang diterbitkan setiap kuartal oleh Komandan dari Komando Pasifik Amerika Serikat. APDForum.com menampilkan berita dan analisis mengenai Cina, India, Filipina, Vietnam, Jepang, kedua negara Korea, dan negara-negara Pasifik lainnya oleh para koresponden profesional. APDForum.com dan The Asia-Pacific Defense Forum menyediakan sebuah forum internasional bagi personel militer di wilayah-wilayah Asia dan Pasifik.

Detasemen Khusus 88 Kekuatan Cerdas, Gaya Indonesia


2012-07-01
Lt. Col. Ron Sargent dan Dr. James Campbell

Komando Detasemen 88 ikut serta dalam latihan keamanan anti-teror di
                     Jakarta, Indonesia pada bulan Maret 2010. [AGENCE FRANCE-PRESSE]

Komando Detasemen 88 ikut serta dalam latihan keamanan anti-teror di Jakarta, Indonesia pada bulan Maret 2010. [AGENCE FRANCE-PRESSE]

Detasemen Khusus 88 Indonesia telah menggerakkan sukses negara ini dalam memerangi terorisme dalam beberapa tahun terakhir. Sejak mulai beroperasinya di tahun 2003, kesatuan ini telah meraih angka kemenangan taktis yang sangat tinggi, termasuk penangkapan dramatis salah seorang buronan negara Abu Tholut bulan Desember 2010, yang pernah melatih para ekstrimis di Afganistan dan sebelumnya dipenjarakan selama empat tahun karena kegiatan terorisme. 


Detasemen 88 telah mendapat ketenaran bukan saja untuk kecermatan yang ditunjukkan unit ini dalam operasi-operasi pergerakannya tetapi juga untuk penggunaan nuansanya ketika berhubungan dengan orang yang mereka tahan. Majalah Time melaporkan bulan Juni 2010 bahwa Detasemen 88 menggunakan pendekatan hati-dan-pikiran untuk menyadarkan para ekstrimis keras, sambil menghasilkan intelijen yang dapat ditindaklanjuti yang menuntun kepada operasi-operasi selanjutnya. Walaupun kesatuan ini telah sering dikritik oleh para kelompok hak azasi manusia karena kurangnya pengawasan dan kontrol akan beberapa operasi taktis baru-baru ini, hal ini diseimbangkan oleh peningkatan keseluruhan dalam mentaati hak azasi manusia di sektor keamanan Indonesia dalam dekade terakhir. Walaupun sangat menggoda untuk melihat perkembangan-perkembangan itu sebagai petunjuk arah kesuksesan tahap strategis di masa depan, kemajuan harus ditempatkan kedalam konteks warisan yang sangat kompleks (lihat keterangan samping di halaman 52 tentang Warisan yang Bertahan). Ketika Detasemen 88 didirikan pada tahun 2003, prasyarat untuk menjadi anggotanya ialah bahwa personilnya tidak akan dikirim ke Aceh atau Papua Barat di Indonesia atau Timor Timur, untuk menghindarkan dari potensi tantangan-tantangan pelanggaran-pelanggaran hak azasi manusia.


Petugas Detasemen 88 berlatih militer di Jakarta pada tahun 2010.
                     [REUTERS]

Petugas Detasemen 88 berlatih militer di Jakarta pada tahun 2010. [REUTERS]

Ditarik dari berbagai pangkat di kekuatan-kekuatan elit operasi khusus kepolisian Indonesia, satuan ini menggunakan taktik-taktik canggih yang membedakannya dari para pendahulunya baik dari Polisi Republik Indonesia (POLRI) maupun Tentara Nasional Indonesia (TNI). Namun demikian, kemampuan Detasemen 88 memang mewakili satu perangkat kekuatan nasional Indonesia secara keseluruhan.


Untuk memperkuat dampak kesatuan ini, kegiatan-kegiatannya harus dikoordinasikan dengan kegiatan-kegiatan badan dan organisasi lain melalui kerangka hukum yang melingkupinya. Reformasi hukum yang luas telah mendukung pelaksanaan kegiatan-kegiatan Detasemen 88, menciptakan lingkungan antarbadan yang lebih efektif untuk menuntut para terdakwa teroris. Para ahli setuju bahwa hal ini akan memungkinkan kemenangan strategis abadi bagi Jakarta atas para ekstrimis keras.


Namun demikian, masih diperlukan kerja keras untuk memutuskan siklus antar-generasi perekrutan ekstrimis keras dan radikalisasi yang rumit. Noor Huda Ismail, pendiri Institut Pembangun Perdamaian Internasional di Jakarta, menyatakan kebutuhan Indonesia akan peran-peran bagi badan-badan keamanan lainnya termasuk TNI. “Kita harus memuji Detasemen 88 untuk kesuksesan mereka dalam mengacaukan jaringan terror Indonesia…” katanya kepada majalah Time di tahun 2010, “tetapi mereka berusaha melakukan segalanya: mencegah teroris, menangkap teroris, mederadikalisasi teroris. Satu kesatuan tidak dapat melakukan semuanya.”


Dengan 400 anggota kader eksklusif, Detasemen 88 tidak dapat hadir dimana-mana seperti TNI di seluruh bumi nusantara yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau, yang hampir 1.000 diantaranya tidak berpenghuni. TNI yang lebih sering disebarkan kemana-mana berperan historis dalam hampir semua aspek keamanan nasional, termasuk kontraterorisme.


USAHA TERPADU


Detasemen 88 dan TNI tidak sendirian dalam usaha mereka menumpas terorisme di Indonesia. Pemerintah menugaskan Menteri Koordinasi bidang Politik, Hukum dan Keamanan yang dipimpin oleh Jend. TNI Purn. Djoko Suyanto untuk menangani upaya tingkat nasional. Namun demikian, Suyanto kurang memiliki wewenang tingkat eksekutif atas upaya kontraterorisme nasional. Berada dibawahnya adalah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Kepemimpinannya dibagi diantara satu perwira TNI (deputi untuk upaya-upaya pencegahan, perlindungan dan deradikalisasi) dan dua perwira POLRI. Sebagai badan baru, BNPT baru saja mulai menelusuri lingkungan antar-badan yang rumit dalam rangka mencoba menentukan peran dan tanggung jawabnya. Namun demikian, mulai 1 Januari 2012, BNPT tidak lagi dibawah Menteri Koordinasi and memiliki kebebasan anggarannya sendiri. Disamping itu, terdapat Badan Intelijen Nasional (BIN) yang berpengaruh. Direktur baru BIN ialah perwira TNI Letjen Marciano Norman.


Masyarakat Indonesia mendukung peran kerjasama dari semua pelakunya karena terorisme dipandang sebagai ancaman besar. Lagipula terdapat juga upaya-upaya akar rumput yang berarti untuk menentang perekrutan dan radikalisasi anak-anak muda. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah sebuah kelompok yang punya hubungan dengan politisi-politisi senior Indonesia. Seperti yang dilaporkan oleh suratkabar Christian Science Monitor, HMI berusaha mencegah para mahasiswa menjadi radikal dengan memberi mereka pilihan-pilihan selain ekstrimisme. Organisasi-organisasi akar rumput lain yang menjauhkan diri dari kekerasan termasuk Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, yang jumlah total anggotanya kira-kira 60 juta orang. Dengan kegiatan-kegiatan akar rumput sebanyak ini, ada kesempatan-kesempatan yang banyak dan yang belum pernah ada sebelumnya untuk kerjasama antara sektor sipil dan keamanan dalam rangka bekerja kearah kontraterorisme positif dengan hasil unik bagi Indonesia, yang pengangguran kaum mudanya mencapai 23 persen. Upaya akar rumput sangat genting dan harus didorong dan didukung melalui inisiatif-inisiatif pemerintah. Langkah-langkah reformasi seperti itu termasuk menciptakan dan menjalankan kurikulum standard pada sekolah-sekolah sekular dan pemerintah dan pondok pesantren Islam (madrasah); melawan pesan-pesan ekstrimis di dunia maya dan media lain; dan perundang-undangan untuk mempermudah tindakan hukum atas orasi kebencian.


MELANGKAH MAJU


Bagaimana pemerintah Indonesia dapat menyusun langkah-langkah selanjutnya?


1.Menurut rekomendasi International Crisis Group, membangkitkan atau menyegarkan kembali perdebatan RUU Keamanan Nasional yang tersendat dan mensahkan perundang-undangan bagi cetak biru aparat keamanan nasional yang masuk akal dan menyeluruh. Perundang-undangan seperti itu akan menetapkan kerangka pengaturan yang memperjelas peran dan tanggung jawab dalam konteks utuh pemerintah dan mengurangi persaingan antarbadan yang tidak produktif antara badan-badan keamanan yang penting.


2. Memberdayakan Kementrian Koordinasi Politik, Hukum dan Keamanan dengan wewenang eksekutif tertentu dan pengawasan yang lebih besar dalam operasi-operasi kontraterorisme—sesuatu yang dapat dicapai jika RUU Keamanan Nasional disahkan. Beberapa ahli memperdebatkan bahwa tingkat-tingkat pengawasan tambahan bisa meningkatkan resiko penyingkapan informan dan membahayakan operasi-operasi rahasia. Namun demikian, polemik ini harus dilawan agar dapat dicapai kerjasama dalam kontraterorism yang efektif.


3. Dengan ketat mengatur upaya-upaya yang membangun kapasitas sektor keamanan negara donor untuk menjamin mereka untuk tidak memperburuk saingan-saingan antarbadan yang ada dengan kurang hati-hati. Idealnya, kontribusi donor harus dimasukkan kedalam strategi perkembangan sektor keamanan yang didorong oleh kebutuhan dan ditetapkan dengan jelas.


4. Mengembangkan strategi-strategi untuk melembagakan upaya-upaya organisasi akar rumput, lembaga swadaya masyarakat dan organisasi sipil lainnya yang memberi kontribusi atas kontraradikalisasi dan deradikalisasi kaum muda, dan menyelaraskan upaya-upaya ini dengan pemerintah dengan berbagi pesan-pesan dan tema-tema umum.


Meskipun ada tantangan, pemerintah Indonesia terus meningkatkan kemampuan dan mandat kontraterorisme dengan bantuan Detasemen 88. Dengan menggabungkan Detasemen 88, sektor keamanan lainnya dan organisasi masyarakat sipil yang relevan didalam kerangka strategis umum akan mempercepat kemajuan dalam membangun suatu program yang efektif melawan ekstrimisme di Indonesia.


Tentang Para Penulis:


SERGAPAN-SERGAPAN UTAMA DETASEMEN 88 


2005: Menewaskan Azahari Husin dalam penyergapan; ia dituduh sebagai ahli pembuat bomb Jemaah Islamiyah dan otak teknis dibalik pemboman Bali 2002 dan Kedutaan Australia 2004.


2007: Menangkap Abu Dujana, militan tamatan Afganistan dan rekanan Al-Qaeda yang bertugas sebagai pemimpin bagian militer Jemaah Islamiyah.


2009: Menewaskan Noordin Muhammad Top dalam penyergapan; ia dituduh sebagai otak dari beberapa serangan terhadap sasaran Barat, termasuk serangan Hotel Marriott 2003 di Jakarta, serangan 2005 di Bali, dan serangan hotel Marriott dan Ritz-Carlton tahun 2009 di Jakarta. 


2010: Menewaskan Dulmatin, militan tamatan Afganistan dan rekanan Al-Qaeda yang dianggap sebagai pimpinan senior Jemaah Islamiyah. Dalam penyergapan lain di tahun 2010, menangkap Abu Tholut, penyelenggara kamp pelatihan teroris di propinsi Aceh.


2012: Menewaskan lima tertuduh teroris dalam penyergapan-penyergapan bulan Maret di Denpasar, Bali


Warisan yang Dipertahankan


Akar ekstrimisme kekerasan mengalir dalam di Indonesia dan terkatalisasikan dalam tiga dekade pertama bangsa ini ditengah kemiskinan yang merata dan pemerintahan yang penuh tantangan di salah satu negara Asia yang terpadat penduduknya ini. Insurjensi Darul Islam (DI) dimulai di pertengahan tahun 1940-an dengan sejumlah pemberontakan independen di propinsi Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan yang bekerja sama untuk mendirikan sebuah negara Islam di Indonesia. Setelah Perang Dunia II, para milisi DI bersekutu dengan angkatan-angkatan sekular Indonesia melawan musuh bersama yaitu penjajah Belanda. Setelah serah terima kekuasaan dari Belanda kepada Republik Indonesia bulan Desember 1949, ketegangan antara milisi dan negara baru ini segera terbentuk. Pada pertengahan dekade 1950-an para milisi berontak terhadap kepemimpinan sekular Presiden Sukarno dan secara terbuka mencoba menggulingkan pemerintahannya. Pada akhir dekade 1950-an jumlah pejuang yang bersekutu melawan pemerintah mencapai puncaknya yaitu hampir 100.000 orang. Namun demikian, pada pertengahan dekade 1960-an gerakan ini dikalahkan oleh militer nasional, dan pejuang yang hidup pulang ke rumah mereka. Dengan cara itu para pejuang ini menabur bibit-bibit kekerasan ekstrimis di dekade-dekade berikutnya ke seluruh bumi nusantara dan daratan Asia Tenggara, yang memberi sumbangan bagi apa yang kemudian menjadi Jemaah Islamiyah (JI), suatu kelompok militan lainnya yang mencoba mendirikan sebuah negara Islam.


Menurut International Crisis Group, banyak bekas pejuang DI memasuki masa persembunyian yang relatif sampai terdapat upaya-upaya yang tampaknya seperti menghidupkan kembali pergerakan itu pada pertengahan dekade 1970-an melalui tipu muslihat yang dilakukan oleh intelijen militer Indonesia. Tipu muslihat ini berhasil dalam membuka dan memberantas sisa-sisa jaringan formal DI, tetapi tidak menghapuskan atau melawan motivator-motivator ideologis yang menginspirasikan para anggotanya. Bukti ini didukung oleh interaksi antara Abu Bakar Basyir, salah seorang tokoh pendiri JI, dan para veteran DI dalam tahun-tahun awal berdirinya JI. Sambil lalu, Basyir berasal dari Jawa Tengah, salah satu pusat awal insurjensi DI dan daerah dimana jaringan-jaringan pecahan DI telah terungkap akhir-akhir ini. Walaupun sukses Detasemen 88 dalam mengungkapkan jaringan-jaringan ini memberikan harapan, konflik yang kompleks dan beraspek banyak masih tetap belum terpecahkan.

Letkol Ron Sargent, perwira Angkatan Darat A.S. untuk kawasan luar negeri Asia Tenggara, adalah dosen pengajar pada Asia-Pacific Center for Security Studies (APCSS) atau Pusat Kajian Keamanan Asia Pasifik di Honolulu. Dia pernah bertugas di Hawaii dan Korea Selatan dan menjadi kepala Kantor Kerjasama Pertahanan di Timor-Leste dari tahun 2006 sampai 2009.


Dr. James Campbell adalah dosen pengajar manajemen krisis komprehensif di APCSS. Sebelum bekerja di APCSS tahun 2008 ia menjadi manajer untuk keamanan biologi dan pertahanan biologi di Pacific Northwest National Laboratory di Richland, Washington dan telah bekerja selama 27 tahun sebagai ilmuwan riset kedokteran biologi di Medical Service Corps atau Korps Pelayanan Kesehatan di Angkatan Laut A.S.


 

Beri Peringkat Artikel ini

Peringkat Saat Ini: 3.5 / 5 (346 suara)
 

Belum ada komentar untuk artikel ini. Anda ingin menjadi yang pertama?

 
Kirim Komentar

Kebijakan Komentar APD Forum

* menunjukkan bidang yang wajib diisi




1500 karakter tersisa (1500 jumlah karakter maksimum)

Button